Mahasiswi master di Vrije University, Brussels, itu mengatakan proses wawancara sebelumnya berjalan lancar.
Tapi, untuk melangkah ke tahap selanjutnya, Baslik diminta untuk menghubungi pejabat daerah Leopoldsburg terlebih dahulu untuk mengetahui apakah kerudung yang ia kenakan boleh dikenakan saat bekerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menegaskan dia telah melengkapi seluruh syarat pendidikan dan adminstratif lainnya yang dibutuhkan untuk melamar magang di panti jompo tersebut. Balsik menganggap seluruh persyaratan itu cukup baginya untuk bisa berkontribusi terhadap masyarakat lanjut usia di panti tersebut.
"Saya hanya ingin hak setara seperti warga lainnya di negara ini," kata Baslik. "Saya merasa mereka tidak memberikan hak yang sama seperti warga Belgia lainnya kepada saya. Jika negara Eropa berbicara tentang kebebasan, semua orang harus memiliki hak yang sama."
Penggunaan atribut Muslim seperti kedurung, cadar, burqa, hingga burkini terus menjadi perdebatan di sejumlah negara di Eropa semenjak sentimen Islamofobia meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Meski begitu, belum ada negara Eropa yang benar-benar melarang penggunaan kerudung.
Pelarangan mengenakan burkini juga diterapkan di banyak kolam renang kota, tapi tidak ada pelarangan pengenaan burkini di pantai.
Norwegia dan Denmark resmi melarang wanita Muslim mengenakan cadar dan niqab (penutup wajah) di depan umum. Denmark bahkan telah mengenakan sanksi bagi warganya yang berkeras mengenakan cadar dan niqab di tempat publik.
Parlemen Norwegia pada Juni lalu juga telah mengesahkan beleid larangan pengunaan cadar yang menutup sebagian atau seluruh wajah di lembaga-lembaga pendidikan. Aturan ini berlaku bagi siswa dan guru, serta para staf di pusat-pusat penitipan anak dalam situasi mengajar.
Selain ketiga negara tersebut, sejumlah negara di Eropa lainnya seperti Austria, Ceko, Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swiss juga memperdebatkan penggunaan atribut Muslimah seperti cadar dan burqa di tempat publik.