Jenderal Venezuela Ditahan Terkait Upaya Pembunuhan Maduro

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 12:46 WIB
Jenderal Venezuela Ditahan Terkait Upaya Pembunuhan Maduro Dua petinggi militer Venezuela ditahan dengan tuduhan terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Nicolas Maduro dengan menggunakan drone baru-baru ini. (REUTERS/Miraflores Palace)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyelidikan terhadap upaya pembunuhan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) sudah memasuki babak baru dengan penangkapan dua perwira militer, Selasa (14/8).

Jaksa Agung, Tarek William Saab mengatakan penyelidikan mengungkapkan keterlibatan 34 orang dalam upaya pembunuhan awal Agustus lalu. Sebanyak 14 orang hadir di pengadilan, sementara 27 surat perintah penangkapan telah dikeluarkan dan telah dikirimkan ke Interpol.

"Ada 14 tahanan yang dihadirkan dan dituntut di pengadilan," kata dia.


Mantan anggota Parlemen, Juan Requesens didakwa dengan kejahatan pengkhianatan, terorisme, dan asosiasi untuk melakukan kejahatan dan pembunuhan.


Berdasarkan laporan dari Telesurtv.net, Kolonel Pedro Zambrano, Pengawal Nasional Bolivarian, Divisi Jenderal Alejandro Pérez, Brayan Oropeza, Luis Guerra, Yanin Pernía, dan José Blanco, juga didakwa dalam rencana pembunuhan, pada Senin (13/8) lalu.

Para pejabat Venezuela sedang meminta Kolombia untuk mengekstradisi seorang anggota parlemen terkemuka, Julio Borges yang tinggal di Bogota.

Dilansir dari The Star, para pejabat mengatakan rencana pembunuhan yang melibatkan dua drone yang berisi bahan peledak yang diledakkan dekat Maduro saat berpidato di sebuah perayaan militer di Ibu Kota Caracas, pada 4 Agustus lalu.



"Ledakan pertama terjadi didepan tribun yang menyebabkan ratusan tentara menyebar dan siaga, tujuh tentara terluka tetapi Maduro dan beberapa pejabat lainnya tidak terluka," kata dia.

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro mengatakan dirinya akan menerima jika pemerintah Amerika Serikat meratifikasi penawarannya bagi Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk bekerja sama.

[Gambas:Video CNN]

"Jika pemerintah Amerika Serikat meratifikasi penawarannya bagi FBI untuk bekerja sama dalam penyelidikan tentang hubungan di Florida dengan rencana upaya pembunuhan 4 Agustus dan serangan teroris, saya akan menerimanya," kata dia saat pertemuan dengan jenderal dan laksamana dari Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB) pada Sabtu (11/8) lalu.

(cin/nat)