Erdogan: Serangan ke Ekonomi Turki adalah Serangan ke Azan

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 20/08/2018 20:10 WIB
Erdogan: Serangan ke Ekonomi Turki adalah Serangan ke Azan Presiden Turki Tayyip Erdogan menyamakan serangan pada ekonomi negara itu dengan serangan pada agama dan kedaulatan bangsa. (Reuters/Umit Bektas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan serangan terhadap perekonomian Turki sama dengan serangan pada bendera negara itu atau pada azan.

Pernyataan ini merupakan pembelaan diri bernada keagamaan dan nasionalisme dari Erdogan terkait penurunan nilai mata uang negara itu.

Dalam pidato menyambut perayaan empat hari Hari Raya Idul Adha, Erdogan mengatakan tujuan krisis mata uang adalah "melumpuhkan Turki dan warga negara itu".


"Serangan terhadap perekonomian kita tidak berbeda sama sekali dengan serangan pada azan dan bendera kita. Tujuanny sama. Tujuannya adalah melumpuhkan Turki dan warga negara Turki - untuk menyandera negara ini," ujar Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi Turki.

Mereka yang berpikir bahwa Turki akan menyerah dengan nilai tukar mata uang akan segera sadar bahwa mereka melakukan kesalahan."

Namun Erdogan tidak menyebut nama negara atau lembaga yang dimaksud, namun sebelumnya dia menuduh "aksi lobi suku bunga", badan pemeringkat dan investor internasional berada di balik situasi ekonomi Turki.

Lira Turki kehilangan 40 persen dari nilainya tahun ini setelah muncul kekhawatiran akan pengaruh Erdogan pada kebijakan moneter negara itu dan pertikaian diplomatik dengan Amerika Serikat.

Kejatuhan nilai mata uang Turki ini berdampak pada nilai mata uang dan bursa saham negara berkembang dalam beberapa minggu terakhir.

Sementara itu, terdengar rentetan tembakan ke arah Kedutaan Besar Amerika Serikat dari satu mobil yang melintas. Tidak ada laporan korban luka atau meninggal akibat aksi yang terjadi pada Senin (20/8).
 
Salah satu sumber ketegangan Turki dengan pihak luar adalah penahanan pendeta Kristen asal AS Andrew Brunson, yang dikenakan tuduhan aksi terorisme. Tuduhan ini dibantah oleh Brunson.

Pada Jumat (17/8), pengadilan Turki menolak permintaan banding Brunson untuk dibebaskan sehingga Presiden AS Donald Trump mengecam dan menegaskan negaranya tidak akan "berdiam diri" atas penahanan warganya itu.

Dua badan pemeringkrat internasional, Moody's dan Standard & Poor's, menilai rating Turki masuk menjadi kategori sampah.

Penurunan peringkat ini memvalidasi kekhawatiran bahwa Turki "sulit menghindari perlambatan dalam kegiatan ekonomi" dan kejatuhan nilai mata uang lira "memiliki risiko terhadap stabilitas finansial". (yns/yns)