Netanyahu Harap AS Akui Dataran Tinggi Golan Wilayah Israel

Riva Dessthania Suastha & , CNN Indonesia | Jumat, 24/08/2018 20:30 WIB
Netanyahu Harap AS Akui Dataran Tinggi Golan Wilayah Israel PM Israel Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih berharap Amerika Serikat mau mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah kedaulatan Israel.

Pernyataan itu diutarakan Netanyahu menanggapi komentar Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton yang menegaskan bahwa langkah tersebut belum menjadi pertimbangan Gedung Putih saat ini.

"Apakah saya akan menyerah dengan hal seperti [pernyataan Bolton] itu? Tidak mungkin," ucap Netanyahu di Tel Aviv ketika ditanya wartawan apakah dirinya mengendurkan harapan soal klaim Golan menyusul pernyataan Bolton tersebut, Kamis (23/8).


Israel merebut sebagain besar wilayah Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari 1967 silam dan kemudian berusaha mengklaim area itu sebagai wilayahnya. Namun, klaim Israel itu tidak pernah diakui oleh dunia internasional.



Selain Israel, Palestina juga berusaha menjadikan wilayah lainnya di Dataran Tinggi Golan yaitu Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai bagian dari wilayah negaranya di masa depan. Langkah Palestina ini diajukan dalam perundingan pendirian dua negara atau two state solution antara Palestina dan Isarel, yang didukung AS namun terhenti sejak 2014.

Pemerintahan Trump mencoba menghidupkan kembali jalur diplomasi ini namun ditanggapi dengan dingin oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas terutama sejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember lalu.

Netanyahu kembali mengangkat kemungkinan AS mengakui Golan sebagai wilayah Israel dalam pertemuan pertamanya dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Februari 2017 lalu.

Pada Mei lalu, menteri intelijen Israel juga mengatakan pengakuan AS terhadap Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel "akan segera datang dalam beberapa bulan ke depan."

Dikutip Reuters, Menteri Keamanan Israel Yoav Gallant mengatakan bahwa prioritas Israel dan AS sebagai sekutu dekat adalah memberangus pasukan Iran dan kelompok Hizbullah dari Libanon dari Suriah.

"Ketika Suriah dibangun kembali, kami [Israel-AS] memiliki dua kepentingan signifikan. Pertama, adalah Iran dan Hizbullah, masing-masing harus kembali ke tempat asal mereka [dari Suriah]," kata Gallant kepada stasiun televisi Channel 13 Israel.

"Kepentingan kedua adalah kedaulatan Israel yang jelas di setiap meter Dataran Tinggi Golan. Saya pikir jika kami bekerja dengan cara yang benar, kami akan mendapatkannya." (nat)