Menlu Iran Temui Erdogan, Bahas Konflik Suriah

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 22:10 WIB
Menlu Iran Temui Erdogan, Bahas Konflik Suriah Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menemui Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Rabu (29/8) dengan salah satu agenda membahas konflik Suriah. (Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menemui Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Rabu (29/8) dengan salah satu agenda membahas konflik Suriah.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, yang turut serta dalam pertemuan itu, mengatakan Zarif dan Erdogan berdiskusi selama kurang lebih satu jam.

Kepada kantor berita Anadolu, Kamis (30/8), Cavusoglu mengatakan hubungan bilateral Iran-Turki serta masalah Suriah menjadi topik pembicaraan pertemuan itu.



Sementara itu, melalui akun Twitter-nya, Zarif mengatakan pembicaraannya bersama Erdogan sangat bermanfaat dan produktif.

"Kami berdua fokus membicarakan relasi bilateral dan kerja sama regional untuk menghadapi perilaku busuk Amerika Serikat," ucap Zarif seperti dikutip AFP.

Setelah menemui Erdogan, Zarif berencana mengunjungi Pakistan dan menemui perdana menteri baru, Imran Khan.



Belakangan Iran mempertegas dukungannya terhadap Turki yang tengah berseteru dengan Amerika Serikat, musuh bebuyutan Teheran.

Besama Rusia, Iran dan Turki juga tengah berembuk membicarakan proses perdamaian di Suriah.

Meski semula Ankara mendukung pemberontak untuk menggulingkan Presiden Bahsar Al-Assad, Turki akhirnya mengesampingkan perbedaan dengan Iran dan Rusia untuk membentuk aliansi tiga-arah demi memajukan perdamaian di Suriah.

Mereka juga melancarkan serangan untuk menggempur pasukan Kurdi di Suriah yang selama ini dilatih oleh koalisi AS. Turki menganggap Kurdi sebagai teroris yang berusaha mendirikan negara sendiri di wilayah Turki.

Media lokal Turki melaporkan Erdogan, Presiden Iran Hassan Rouhani, dan Presiden Rusia Vladimir Putin juga berencana menggelar pertemuan tinggi ketiga di Suriah pada 7 September mendatang.

Pertemuan itu digelar guna membicarakan progres perdamaian Suriah yang telah dirundung konflik sipil selama 7 tahun terakhir.
Para analis menganggap perseteruan di Idlib, wilayah yang masih dikuasai pemberontak Suriah, bisa menjadi tantangan terbesar aliansi ketiga negara itu.

Turki menganggap solusi militer di Idlib-yang diusulkan Rusia-Iran-hanya akan menyebabkan gelombang pengungsi baru ke negaranya.

Dalam kesempatan berbeda, Menlu Rusia Sergei Lavrov menyerukan negara Barat untuk tidak menghalangi "operasi anti-teror" di Idlib.

Dia mengatakan ada "pemahaman politik" antara Rusia dan Turki yang menjadikan kedua negara menganggap perlu "membongkar apa yang disebut oposisi moderat dari teroris." (has)