Meski Diperingatkan, Rusia Tetap Serang Idlib di Suriah

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Rabu, 05/09/2018 18:35 WIB
Meski Diperingatkan, Rusia Tetap Serang Idlib di Suriah Ilustrasi (REUTERS/Ammar Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia meluncurkan serangan udara ke daerah-daerah di provinsi Idlib, Suriah, Selasa (4/9). Serangan ini menewaskan sedikitnya 10 warga sipil dan lebih dari 20 orang luka-luka.

Serangan terjadi ketika PBB mendesak Rusia, sekutu pemerintah Suriah, dan Turki untuk mencegah "pertumpahan darah" di kawasan itu.

Setidaknya terdapat 24 serangan pertama dalam tiga minggu yang ditujukan ke Jisr al-Shughour di tepi barat Idlib pada Selasa (4/9) pagi. Serangan itu berlangsung selama beberapa jam sebelum akhirnya reda sekitar pukul 7 malam waktu setempat, seperti dilaporkan Al-Jazeera, media Timur Tengah yang berdomisili di Qatar. 


Menurut seorang aktivis dari White Helmets, Ahmed Yarji (33) mengatakan sedikitnya 10 warga sipil tewas dalam serangan udara dan 20 lainnya terluka.
Yarji mengatakan lima anak dari semua anggota keluarga yang sama dan berusia antara lima hingga 11 tahun, termasuk di antara mereka yang tewas.

"Rumah warga sipil adalah satu-satunya bangunan yang menjadi sasaran," kata dia.

"Warga di daerah itu takut untuk tidur di dalam rumah mereka hari ini, dan banyak yang memilih untuk tidur di padang gurun, takut serangan udara lain datang," kata dia kepada Al-Jazeera.

Tak indahkan peringatan

Media asal Abu Dhabi The National menyebut, bahwa serangan itu juga terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan kepada presiden Suriah, Bashar Al Assad untuk tidak "menyerang sembarangan" pemberontak terakhir di negara itu. 

Trump menulis cuitan di Twitter yang mengatakan bahwa Rusia dan Iran akan membuat kesalahan besar dalam mengambil bagian dalam potensi tragedi kemanusiaan ini.



Pemboman Rusia ini bisa mempertaruhkan nasib pertemuan antara Turki, Iran, dan Rusia yang akan berlangsung pada Jumat (7/9) mendatang. Pembicaraan itu bertujuan untuk menemukan alternatif terhadap serangan dalam skala besar.

Utusan Suriah dari PBB, Staffan de Mistura menggambarkan pembicaraan itu "penting" untuk menghindari serangan, dan dirinya mencatat bahwa laporan media telah menyatakan Suriah berencana untuk meluncurkan serangan minggu depan jika solusi tidak ditemukan.

Sementara itu, para pejabat AS juga telah berusaha untuk menunda serangan. Delegasi AS diutus ke Yordania, Israel dan Turki untuk membahas mengenai Idlib pada Sabtu (1/9).

Delegasi tersebut termasuk James Jeffrey, Perwakilan Khusus yang baru ditunjuk untuk keterlibatan Suriah, dan Joel Rayburn, Wakil Asisten Sekretaris Wilayah Timur, serta utusan khusus untuk Suriah.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan jika Turki sedang mendiskusikan aksi bersama Rusia untuk menargetkan kelompok teroris di Idlib sambil menghindari serangan skala penuh.

"Kami pergi ke Moskow dengan menteri pertahanan dan kepala intelijen kami. Sekarang pembicaraan sedang berlangsung antara tentara kami, badan intelijen dan kementerian luar negeri tentang langkah seperti apa yang bisa diambil, " kata dia, seperti dikutip The Japan Times.

Turki mengatakan kehadiran kelompok-kelompok radikal di Idlib sedang digunakan untuk operasi militer.

Ketika dia berada di Rusia pada akhir Agustus, Cavusoglu mengatakan saat dirinya di Rusia bahwa kita harus membedakan teroris dari orang lain karena hal itu juga penting untuk menghilangkan kekhawatiran Rusia.

Suriah dan sekutu niat menyerang

Berbagai organisasi kemanusiaan telah memperingatkan tentang potensi bencana kepada 2,5 juta warga sipil di provinsi itu jika serangan itu berlanjut.

Namun Suriah dan sekutunya telah mengisyaratkan bahwa mereka bermaksud untuk membuat kemajuan di Idlib. Hampir dua pertiga di antaranya dikendalikan sekitar 30.000 pejuang milik ekstrimis Hayat Tahrir Al Sham (HTS), koalisi Islam yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Para analis telah berspekulasi bahwa Rusia dan Suriah mungkin mengejar serangan bertahap yang akan menargetkan wilayah strategis di bagian provinsi pertama.

Sejak masuknya Rusia ke dalam perang di Suriah pada 2015 lalu, Assad dan sekutu dekatnya lainnya seperti Iran dan sekelompok milisi regional kembali telah memaksa para pemberontak termasuk Aleppo, Ghouta Timur, dan Deraa.

Menteri Rekonsiliasi Nasional Suriah, Ali Haidar mengatakan bahwa pengepungan Idlib mungkin akan diselesaikan dengan paksaan.

"Hingga kini, aksi militer lebih mungkin daripada rekonsiliasi," kata dia, seperti dikutip dari The Japan Times.

Seorang jenderal AS memperkirakan saat ini ada 20 ribu hingga 30 ribu militan di Idlib.

[Gambas:Video CNN]

(CIN/eks)