Hayat Tahrir al-Sham Jihadis Terkuat bagi Suriah dan Rusia

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 01/09/2018 13:01 WIB
Hayat Tahrir al-Sham Jihadis Terkuat bagi Suriah dan Rusia ketua HTS Abu Mohammad al-Jolani menegaskan akan mempertahankan Idlib di Suriah dengan mati-matian dan anggota yang berpikir menyerah dianggap sebagai pengkhianat.(AFP/Omar Haj Kadour)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Suriah dan Rusia mengancam akan menyerang provinsi Idlib yang merupakan benteng terakhir kelompok perlawanan Hayat Tahrir al-Sham.

Aliansi jihadis yang didirikan oleh bekas cabang al-Qaedah di Suriah tampaknya merupakan musuh paling kuat pasukan pemerintah Suriah.

Kelompok terbesar dalam Aliansi Jihadis di Idlib ini adalah Hayat Tahrir al-Sham (HTS).


HTS pertama kali muncul di Suriah pada Januari 2012 dengan nama Fron Al-Nusra. Baik presiden Bashar al-Assad dan Rusia masih menyebut kelompok jihadis itu dengan nama tersebut.
Amerika Serikat, Uni Eropa dan PBB memasukkan kelompok ini ke dalam daftar "teroris" dan kelompok ini muncul di Suriah sebagai cabang dari kelompok al Qaedah di Irak.

Pemimpin HTS saat ini, warga Suriah dengan nama alias Abu Mohammad al-Jolani, adalah seorang veteran perang Irak.

Pada 2013 kelompok ini berbaiat dengan al Qaedah sebelum pecah kongsi dengan sindikasi jihadis global itu pada Juli 2016 dan mengganti nama menjadi Front Fatah al-Sham.

Pada 2017, kelompok ini bubar untuk membentuk Hayat Tahrir al-Sham.
Kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan anggota kelompok ini sebagian besar adalah jihadis Suriah dan jumlahnya diperkirakan sekitar 30 ribu pejuang.

Pakar Suriah Fabrice Balanche mengatakan jihadis ini "sangat teratur dan pantang menyerah".

"HTS memiliki sejumlah besar pejuang asing, kemungkinan sekitar 20 persen dari total pasukannya," kata Charles Lister, pengamat dari Institut Timur Tengah.

Pejuang asing HTS kebanyakan berasal dari Timur Tengah, "tetapi ada juga dari wilayah berbahasa Rusia, Eropa dan Asia selatan,"tambahnya.

Kekuatan HTS

Hayat Tahrir al-Sham sekarang menguasai hampir 60 persen wilayah provinsi Idlib.

Kelompok ini telah membentuk pemerintahan sipil yang menarik pajak cukai di perbatasan dengan Turki dan mengenakan pajak pada para pedagang.

HTS "mendapatkan mayoritas kekuasaannya dari posisi sebagai pengatur keluar masuk barang ke Idlib, dan ini membantu pendanaan mereka serta membuat kekuasaannya melebihi ukuran mereka," kata Nicholas Heras, peneliti dari Pusat Keamanan Amerika Baru.
Hayat Tahrir al-Sham Jihadis Terkuat bagi Suriah dan RusiaHayat Tahrir al-Sham (HTS) pertama kali muncul di Suriah pada Januari 2012 dengan nama Fron Al-Nusra. (AFP/Omar Haj Kadour)


Sebelumnya, HTS hadir di banyak wilayah yang dikuasai pemberontak terutama dekat Damaskus dan wilayah selatan negara itu. Tetapi kelompok ini kehilangan kekuasaan di wilayah-wilayah tersebut ketika para pejuang ditarik mundur ke Idlib dalam satu kesepakatan menyerahkan diri.

HTS tidak pernah diikutsertakan dalam perundingan gencatan senjata yang dilakukan oleh PBB atau Rusia.

Aliansi Jihadis ini berulang kali menjadi sasaran serangan udara Rusia dan koalisi antijihadis pimpinan Amerika. Sejumlah komandan senior HTS tewas dalam serangan-serangan itu.

Kelompok Pesaing

Hayat Tahrir al-Sham sebelumnya berasosiasi dengan kelompok-kelompok Islamis berpengaruh seperti Ahrar al-Sham dan Nereddine al-Zinki, namun pada 2017 terjadi perebutan kekuasaan di kelompok ini. Pertempuran dengan mantan sekutu pun terjadi sehingga permusuhan di antara mereka terus berkembang hingga kini.

Pada awal 2018, Ahrar al-Sham dan Nureddine al-Zinki mengumumkan penyatuan organisasi untuk melawan HTS yang semakin kuat. Penyatuan dua organisasi ini didukung oleh Turki.

Empat faksi pemberontak lain ikut bergabung pada awal Agustus untuk membentuk Front Pembebasan Nasional (NFL).
Hayat Tahrir al-Sham Jihadis Terkuat bagi Suriah dan RusiaPejuang dari Front Pembebasan Nasional (NFL) berjaga-jaga di Idlib sementara provinsi ini didominasi oleh kelompok pesaingnya Hayat Tahrir al-Sham (HTS).  (AFP/Omar Haj Kadour)
Secara terpisah, dalam beberapa minggu belakangan HTS melakukan penyerangan ke "sel-sel tidur" yang terkait dengan ISIS yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan dan serangan bom dengan sasaran pemimpin dan pejuang HTS.

Dua kelompok besar jihadis ini juga bentrok di kota Raqqa, Suriah utara, dan provinsi Deir Ezzor di wilayah timur.

Pada Juli 2014, pimpinan Nusra mengatakan tujuan kelompoknya adalah mendirikan "kerajaan Islam', serupa dengan "kalifah" yang didengungkan oleh ISIS sebelumnya.

Masa Depan

Pada 22 Agustus, Jolani yang jarang tampil membuka suara untuk menegaskan bahwa kelompoknya bertekad menghadapi setiap serangan dari pemerintah di Damaskus.

"Berpikir menyerah kepada musuh dan menyerahkan senjata sudah merupakan aksi pengkhianatan," kata ketua HTS Abu Mohammad al-Jolani.

Rusia meminta agar HTS dibubarkan, namun Turki mencoba merundingkan solusi dengan kelompok-kelompok jihadis untuk menghindari serangan skala besar yang bisa mengganggu stabilitas wilayah perbatasannya.

Menurut Nicholas Heras, peneliti dari Pusat Keamanan Amerika Baru, "pembubaran aliansi jihadis atas perintah Turki ini akan menggerus kekuatan mereka dan pada akhirnya mengganti kedigdayaan HTS dengan kekuasaan Turki." (yns/yns)