Tahan Dua Peracun Mantan Agen Rusia, Inggris Akan Lapor PBB

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 10:07 WIB
Tahan Dua Peracun Mantan Agen Rusia, Inggris Akan Lapor PBB Ilustrasi (REUTERS/Toby Melville)
Jakarta, CNN Indonesia -- Inggris akan melapor kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perintah penangkapan yang dikeluarkan negaranya terhadap dua mata-mata Rusia. Dua mata-mata itu ditangkap atas tuduhan telah meracuni terhadap mantan agen Rusia lainnya di Inggris.

Duta Besar Inggris untuk PBB Karen Pierce akan menjelaskan temuan baru mereka soal penyelidikan kasus peracunan eks agen Rusia Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, di Salisbury, Inggris, pada 4 Maret lalu.

Dikutip AFP, sejumlah diplomat mengatakan pertemuan DK PBB itu akan berlangsung hari ini, Kamis (6/9) sekitar pukul 11.30 waktu New York, Amerika Serikat.


Perdana Menteri Theresa May juga telah mengonfirmasi parlemen bahwa dua warga Rusia itu merupakan agen intelijen militer Rusia, GRU. Otoritas Inggris mengidentifikasi kedua orang itu sebagai Alexander Petrov dan Ruslam Boshirov.

"GRU merupakan organisasi intelijen yang sangat disiplin dan mapan. Jadi percobaan peracunan ini bukan misi asal-asalan," kata May kepada parlemen.

"Hampir dipastikan percobaan serangan ini diketahui dan disetujui di luar GRU, termasuk pejabat senior Kremlin."

London juga telah merilis foto kedua orang tersebut. Keduanya disebut masuk ke Inggris melalui Bandara Gatwick pada 2 Maret lalu dan keluar dua hari kemudian. Kedua pria itu disebut berusia sekitar 40 tahun.

Neil Basu, ketua unit kontra-terorisme polisi Inggris, mengatakan aksi itu "merupakan serangan yang luar biasa canggih" dan terlihat sebagai upaya pembunuhan.

Basu mengatakan mereka menggunakan paspor Rusia asli meski namanya diduga nama alias dan ini bukan kali pertama mereka datang ke Inggris.

Kedua warga Rusia ini didakwa melakukan percobaan pembunuhan serta mempergunakan dan memiliki racun Novichok yang melanggar aturan Senjata Kimia.

Skripal, mantan agen Rusia yang berkhianat kepada negaranya, ditemukan tak sadarkan diri bersama putrinya di sebuah bangku di pusat perbelanjaan di Salisbury awal Maret lalu. Polisi Inggris menyimpulkan keduanya terpapar racun saraf Novichock, racun yang dikembangkan Uni Soviet di era 1970an.

Inggris selama ini menuding Rusia berada dibalik serangan tersebut. Namun, Pemerintahan Presiden Vladimir Putin berkeras membantah seluruh tuduhan tersebut.

Rusia bahkan mengklaim tak mengenal kedua tersangka itu. (AFP/eks)