Parade Ultah Korea Utara Jadi Simbol Perubahan Kebijakan

AFP, CNN Indonesia | Senin, 10/09/2018 16:25 WIB
Parade Ultah Korea Utara Jadi Simbol Perubahan Kebijakan Pengamat menilai parade kali ini bisa menjadi pertanda perubahan strategi Korea Utara dari militer ke pembangunan ekonomi. (KCNA/via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan truk yang membawa tentara berjajar di tepi sungai Pyongyang sementara Korea Utara bersiap-siap merayakan kelahiran negara dengan penampilan kekuatan militernya di hadapan Kim Jong Un dan dunia.

Hari Minggu ini adalah peringatan 70 tahun pendirian Republik Demokratik Rakyat Korea, pada 1948 atau tiga tahun setelah Moskow dan Washington membagi semenanjung Korea menjadi dua wilayah mereka di akhir Perang Dunia Kedua.

Hari-hari bersejarah semacam ini, terutama jika angka genap, adalah andalan dalam kalender politik Korea Utara, dan secara tradisional menjadi acara untuk memamerkan peralatan yang dimiliki.


"Ulang tahun sangat penting di Korea Utara, dan tahun ini lebih penting," ujar Evans Revere dari Brooking Institution yang berkantor di Washington, AS.

"Perayaan itu juga menjadi kesempatan bagi para pemimpin untuk memamerkan pencapaian dan kekuatan nasional, dan mengakui hal itu sebagai karya mereka."

Pawai yang akan dihadiri ileh Kim Jong Un, anggota keluarga Kim ketiga yang berkuasa di negara ini, sangat penting bagi pengamat Korea yang akan memperhatikan dengan seksama untuk mencari pertanda kemajuan yang berhasil dicapai.

Pertama muncul adalah barisan tentara yang melintas di Lapangan Kim Il Sung. Setelah itu akan semakin mengintimidasi ketika tank bergerak di lapangan dan jet tempur terbang di atasnya. Parade pun akan diakhiri dengan penampilan rudal balistin antarbenua.

Tetapi roket-roket itu diperkirakan tidak akan tampil kali ini.

Parade yang terlalu memamerkan kekuatan militer berisiko merusak upaya perbaikan hubungan diplomatik di semenanjung Korea setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura.

Selain itu Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan menghadiri pertemuan tingkat tinggi ketiga pada bulan ini.

"Memamerkan rudal balistik antarbenua akan menjadi provokasi besar dan menampar wajah Amerika Serikat," kata Andrei Lankov dari Korea Risk Group.

Dia mengatakan Korea Utara tidak akan melakukan hal itu karena akan menyulitkan posisi delegasi China yang sedang berkunjung. China akan dianggap mendukung program senjata yang telah membuat Pyongyang dikenakan berbagai sanksi internasional.

Beijing adalah pelindung utama Korea Utara dari sisi diplomasi dan juga mitra dagang terbesar.

Setelah bertahun-tahun hubungan kedua negara beku karena uji coba nuklir dan rudal Korea Utara, hubungan itu kini semakin menghangat dan Kim telah mengunjungi China tiga kali tahun ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Muncul spekulasi bahwa Xi Jonping akan membalas kunjungan itu dengan menghadiri ulang tahun Korea Utara. Hu Jintao adalah presiden terakhir China yang berkunjung ke Korea Utara pada 2005, sementara perdana menteri Wen Jiabao datang pada 2009.
Parade Ultah Korea Utara Jadi Simbol Perubahan KebijakanParade kali ini diperkirakan tidak akan menampilkan rudal balistik antar-benua karena Korea Utara tidak ingin dianggap memprovokasi. (KCNA/via REUTERS)
Namun, spekulasi itu salah karena Xi Jinping akan diwakili oleh Li Zhanshu, ketua parlemen dan anggota komite pendiri polibiro Partai Komunis China yang merupkana badan paling berkuasa di negara itu.

Keputusan Xi Jinping untuk tidak hadir bisa dianggap sebagai dukungan terhadap Pyongyang tanpa menentang Presiden Trump sementara kedua negara terlibat perang dagang.

Di saat bersamaan langkah ini bisa menjadi isyarat bahwa Beijing ingin melihat Kim berbuat lebih dalam upaya mengurangi ketegangan sebelum presiden China berkunjung.

Undangan diplomatik untuk menghadiri acara ini telah disebar, namun hanya satu kepala pemerintah yang akan hadir yaitu presiden Mauritania Mohamed Ouid Abdel Aziz.

Aktor Perancis Gerard Depardieu sudah berada di Pyongyang.

Menurut John Delury dari Universitas Yonsei isi parade ini akan menjadi kunci.

Pada April, Kim Jong Un menyatakan pengembangan senjata nuklir negara itu telah selesai dan "pembangunan ekonomi sosialis" akan menjadi prioritas baru.

"Menarik untuk dilihat apakah Kim Jong Un mencoba mengubah simbolisme, mengubah pesan yang bisa mengganti pesan bernada militer dan memperkuat pesan ekonomi," ujar Delury.
[Gambas:Video CNN] (yns/yns)