Korban Tewas Kapal Terbalik Tanzania Capai 151 Orang

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/09/2018 15:45 WIB
Korban Tewas Kapal Terbalik Tanzania Capai 151 Orang Ilustrasi (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korban tewas kapal terbalik di Tanzania dilaporkan terus bertambah. Teranyar, total sebanyak 151 orang dilaporkan tewas dalam peristiwa nahas yang terjadi di Danau Victoria, Tanzania, Kamis (20/9).

"Operasi dimulai lebih awal pagi ini," lapor kantor berita setempat TBC, melansir AFP.

Sebelumnya, sebanyak 131 korban telah ditemukan pada Jumat (21/9) malam. 40 di antaranya diketahui selamat dari bencana.


Sejumlah saksi mengatakan bahwa kapal MV Nyerere itu tenggelam saat para penumpang bersiap-siap untuk turun saat mulai mendekati dermaga.

Misi evakuasi terus mencari ratusan penumpang lainnya yang kemungkinan terjebak di dalam kapal. Minimnya data penumpang yang akurat juga turut mempersulit operasi penyelamatan.


Merespons peristiwa nahas itu, Presiden Tanzania, John Magufuli, menyatakan 'tiga hari berkabung nasional' yang dimulai sejak Sabtu (22/9).

"Tampak jelas bahwa kapal itu kelebihan beban. Kelalaian telah menelan banyak korban," ujar Magufuli.

Selain itu, Magufuli juga memerintahkan pihak berwenang untuk menangkap operator feri MV Nyerere.

Tragedi Berulang

Kapal MV Nyerere melakukan perjalanan dari Bugolora menuju Pulau Ukara. Pada jarak 200 meter sebelum tujuan akhir, kapal itu mendadak terbalik.

Bencana tenggelamnya MV Nyerere menyoroti masalah kepadatan dan minimnya data penumpang di setiap kapal yang kerap lalu lalang di wilayah tersebut.


Pada tahun 2011, sekitar 200 tewas setelah sebuah kapal terbalik akibat kelebihan muatan di sekitar Pulau Zanzibar.

Peristiwa tenggelamnya kapal feri itu bak tragedi yang terus berulang. Warga setempat menganggap peristiwa serupa itu sebagai bagian dari kehidupan mereka.

"Sejak saya lahir, banyak orang tewas akibat tenggelam di danau ini. Tapi, apa yang harus kami lakukan? Kami tidak punya tempat untuk pergi," ujar John Sebastian, salah seorang warga setempat.

Pihak oposisi menuduh negara telah melakukan kelalaian. "Kami sering khawatir tentang kondisi ini. Tapi pemerintah tutup telinga," ujar John Mnyika, wakil sekretaris jenderal Chadema, partai oposisi utama. (asr/asr)