Pasukan Perdamaian PBB Diserang di Kongo, 15 Tewas

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 09/12/2017 15:24 WIB
Pasukan Perdamaian PBB Diserang di Kongo, 15 Tewas Ilustrasi pasukan perdamaian PBB. (AFP PHOTO / JUNIOR D.KANNAH)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan pemberontak Uganda di Republik Demokratik Kongo menewaskan setidaknya 15 anggota tim pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam serangan yang dikategorikan paling mematikan dalam 25 tahun terakhir.

Dewan Keamanan PBB mengatakan, tim misi perdamaian yang seluruh anggotanya berasal dari Tanzania, terbunuh di Provinsi Kivu utara, Kamis malam.

Lima pasukan Kongo dan 53 orang lainnya pun terluka karena serangan itu.


Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan kemarahannya atas serangan mematikan itu, dan menyebutnya sebagai aksi "memuakkan".

"Saya mengutuk serangan ini. Serangan pada tim pasukan perdamaian PBB ini tidak dapat diterima dan bisa disebut sebagai kejahatan perang," ujar Guterres dalam pernyataan resmi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Heather Nauert, menyatakan bahwa pemerintah AS "merasa muak dengan aksi mengerikan itu".

Serangan itu menyebabkan jumlah korban jiwa terbanyak pada tim misi perdamaian PBB sejak 1993, ketika 24 anggota pasukan dari Pakistan terbunuh di Somalia akibat bentrokan.

Daerah timur Kongo telah lama dikenal karena aksi kekerasan, tapi bentrokan lebih sering terjadi antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak, atau bentrokan antar-suku, yang terus meningkat dalam satu tahun terakhir.

Selain itu juga terjadi peningkatan signifikan aksi penculikan dan pembunuhan antar-suku di Provinsi Kivu Utara, yang berbatasan dengan Uganda dan Ruwanda.  

Pada Oktober, PBB mendeklarasikan darurat level tiga di Kongo -- status yang juga ditetapkan dalam konflik-konflik di Irak, Suriah, serta Yaman.

MONUSCO, tim misi perdamaian PBB di Kongo, menyatakan bahwa mereka basis mereka di Semuliki, Kivu Utara, diserang oleh grup yang diduga berasal dari elemen ADF -- satu dari beberapa kelompok pemberontak bersenjata di daerah sana.

"Serangan pada mereka-mereka yang bekerja untuk menjaga perdamaian dan kestabilan di Republik Demokratis Kongo adalah aksi pengecut," demikian pernyataan Maman Sidikou, kepala MONUSCO.

Sementara itu, Guterres menyatakan bahwa serangan itu adalah salah satu yang terparah dalam sejarah tim misi perdamaian

"Saya meminta pemerintah Kongo untuk menyelidiki insiden ini dan menyeret pelaku untuk ke pengadilan," ujarnya.

"Tidak boleh ada impunitas untuk serangan seperti ini, baik di sini atau tempat lainnya."

Saat ini beberapa orang yang terluka dalam serangan itu berada dalam kondisi kritis, sementara bantuan militer kini sudah tiba di tempat kejadian.  

MONUSCO, pasukan perdamaian yang terdiri atas 18 ribu orang, telah menderita berbagai serangan sejak pertama kali ditempatkan di Kongo -- negara yang kaya akan mineral tapi tidak stabil keamanannya dan juga menjadi rumah bagi berbagai grup pemberontak dan grup etnis.

ADF dituding menyerang tim pasukan perdamaian PBB di timur Kongo pada Oktober lalu, yang menewaskan dua orang dan melukai 12 lainnya.

Setiap harinya terjadi kekerasan di Kivu Utara, sementara masyarakat sipil terjebak di tengah-tengah pertarungan kelompok pemberontak bersenjata.

Kelompok Pembela Hak Asasi Manusia mencatat, lebih dari 500 tewas dan setidaknya 1.087 diculik, serta 11 orang diperkosa massal di Kivu Utara, sejak Juni lalu.   

PBB mengestimasi, lebih dari empat juta orang terpaksa meninggalkan rumahnya, dan 922 ribu mengungsi ke negara lain -- angka yang paling tinggi di antara negara lain di dunia.

(vws)