GRU, Intelijen Rusia yang Dituduh Lakukan Serangan Siber

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 14:34 WIB
GRU, Intelijen Rusia yang Dituduh Lakukan Serangan Siber Belanda usir empat orang yang diduga mata-mata GRU dari Rusia karena dituding melakukan peretasan. (Ministerie van Defensie/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan intelijen Rusia yang sangat berpengaruh, GRU, kini menghadapi tudingan melakukan serangan siber skala besar dari dunia internasional.

Salah satu tuduhan itu adalah upaya meretas sistem komputer kantor pengawas bahan kimia dunia yang berhasil dicegah oleh dinas intelijen Belanda.

Empat orang pelaku serangan itu yang diduga agen GRU segera diusir dari Belanda ketika digerebek.


Inggris juga menuduh dua agen GRU bertanggung jawab atas serangan dengan zat saraf terhadap agenda ganda Sergei Skripal dan puterinya di kota Salisbury Maret lalu.

Dinas Intelijen Militer

GRU adalah singkatan dari Direktorat Intelijen Utama yang merupakan badan intelijen militer Rusia.

Badan ini adalah satu dari tiga badan intelijen di Rusia selain FSB dan SVR yang merupakan badan intelijen luar negeri.

Meski masih dikenal sebagai GRU, badan ini berubah nama menjadi Direktorat Utama atau GU setelah menjalani reformasi pada 2010.
GRU, Intelijen Rusia yang Dituduh Lakukan Serangan Siber Polisi Inggris menuduh dua orang agen GRU bertanggung jawab atas upaya meracuni agen ganda Rusia dengan zat saraf di kota Salisbury. (Metroplitan Police handout via REUTERS)
Kepala GRU, Igor Korobov, bertanggung jawab kepada Kepala Staf Valery Gerasimov dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.

Struktur, jumlah pegawai dan sumber keuangan badan ini merupakan rahasia negara. Lambang resmi badan ini adalah kelelawar hitam yang terbang di atas bola dunia.

Tugas GRU

Badan ini memiliki jaringan mata-mata yang luas di luar wilayah Rusia dan pasukan khusus atau "spetsnaz" yang sangat terlatih telah dikerahkan ke sejumlah konflik seperti di Afghanistan dan Chechnya.

Dalam beberapa tahun terakhir badan ini semakin terkenal karena terlibat dalam beberapa aksi kontroversial Rusia di negara lain.

Pemerintah Belanda mengumumkan pada Kamis (4/10) bahwa dinas intelijen negara itu berhasil menggagalkan serangan peretasan ke badan pengawas senjata kimia dunia (OPCW) yang dilakukan oleh GRU.

Inggris dan Australia juga menuduh GRU, atas perintah Kremlin, melakukan serangkaian serangan siber besar dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah serangan ke Partai Demokrat AS saat kampanye pilpres negara itu pada 2016.

Juli lalu, Jaksa Khusus AS Robert Mueller mendakwa 12 pejabat GRU karena keterlibatan mereka dalam pemilihan umum AS.

Tim penyelidik Bellingcat menghubungkan penembakan pesawat penumpang MH17 di Ukraina timur pada 2014 dengan seorang pejabat GRU yang disebut "bertanggung jawab atas pembelian dan pengiriman senjata".

Belanda mengatakan komputer jinjing yang disita dari terduga mata-mata Rusia di Den Haag memperlihatkan kegiatan di Malaysia terkait penyelidikan penembakan MH17 itu.

GRU juga dikaitkan dengan upaya menjatuhkan pemerintah Montenegro sehari sebelum pemilihan parlemen pada Oktober 2016.

Agen-agen GRU diyakini memberi bantuan militer kepada Suriah dan juga pemberontak di Ukraina timur.

Klaim Tak Bunuh

Pada 2010, Putin mengatakan bahwa pasukan khusus Rusia tidak membunuh penghianat dan menyebut mereka "akan mati dengan sendirinya".

Putin mengakui bahwa pemerintah Uni Soviet mengerahkan para pembunuh untuk menghilangkan musuh, namun mengatakan bahwa Rusia modern tidak lagi mempergunakan taktik itu.

"Unit-unit seperti itu telah ditutup," ujarnya.
GRU, Intelijen Rusia yang Dituduh Lakukan Serangan Siber Ketika membantah tudingan upaya meracuni Skripal, Putin mengatakan tidak ada yang berniat meracuni seseorang di Inggris. (Kommersant/Yuri Senatorov via Reuters)
Meski menyebut Skripal sebagai "sampah", minggu ini Putin kembali membantah klaim bahwa Moskow menyerang agen ganda itu dengan mengatakan: "Tidak ada yang berniat meracun seseorang di sana (Inggris)."

Awal tahun ini, mantan kepala GRU Fyodor Ladygin juga menyangkal keterlibatan badan itu.

"Struktur intelijen Rusia tempat saya bekerja selama bertahun-tahun, tidak pernah...saya ulangi, tidak pernah... melakukan perbuatan bodoh dan jahat," ujarnya di televisi Rusia.

Polisi Inggris menuduh dua pegawai GRU bernama Alexander Petrov dan Rusian Boshirov mencoba membunuh Skripal dan puterinya Yulia.

Skripal, seorang mantan kolonel di dinas intelijen militer Rusia, dihukum penjara karena membocorkan data agen Rusia kepada dinas rahasia Inggris MI6. Dia pindah ke Inggris pada 2010 sebagai bagian dari pertukaran mata-mat antara kedua negara.

Sebelumnya, beberapa pejabat tinggi GRU juga membelot ke Barat.

Vladimir Rezun, yang membelot pada 1970-an, menulis buku berjudul Aqurium yang merupakan julukan bagi kantor pusat GRU di Moskow.

"Ikan jenis apa yang berenang di sana? tulisnya. "Hanya ada satu jenis ikan di sana--piranha." (yns/yns)