ANALISIS

Pidato Wapres AS Canangkan Persaingan dengan China

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 06/10/2018 10:28 WIB
Pidato Wapres AS Canangkan Persaingan dengan China Pidato Mike Pence yang ditujukan untuk politik domestik AS berisi tuduhan keras terhadap China yang dianggap perubahan dalam strategi AS terhadap negar aitu. (Andrew Harnik/POOL Via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Merujuk pada istilah yang digunakan pemerintahan presiden AS George W. Bush, China perlu menjadi "pemangku kepentingan bertanggung jawab". Di era Barack Obama China memiliki kepentingan untuk menerapkan "ketertiban berdasarkan aturan internasional."

Sekarang pesan Presiden Donald Trump untuk Beijing adalah keras. Trump dan Wakil Presiden Mike Pence bertekad, "tidak akan menyerah."

Pada Kamis (4/10) Pence menyampaikan pidato paling keras dari seorang pejabat senior Amerika Serikat sejak kedua negara memperbaiki hubungan empat dekade lalu.


Pence menyebut China sebagai negara penyerang secara militer, pencuri teknologi AS yang agresif, dan mengganggu pemilihan AS, satu tuduhan yang kontroversial.

Meski demikian, kunjungan Menlu Mike Pompeo pada Senin (8/10) ke negara itu mengisyaratkan bahwa AS tampaknya masih memerlukan China. Pompeo mendatangi China setelah melakukan perundingan dengan Korea Utara yang tergantung pada Beijing dari sisi diplomasi dan ekonomi.

Pompeo mengatakan bahwa China "berkeinginan untuk mendukung upaya kami" dalam masalah Korea Utara meski ada ketegangan dengan AS.

Dalam pidatonya Pence mengatakan AS masih berharap hubungan dengan China akan membaik meski dia menyajikan gambaran yang cukup kelam.
Dia mengatakan Amerika Serika akan terus meningkatkan anggaran militer untuk melawan peningkatan anggaran militer China. Pence juga mengulangi ancaman menggandakan tarif atas barang China dari US$250 juta yang sudah diterapkan.

"Saya berpendapat hal ini merupakan perubahan besar dari pendekatan bipartisan pada China yang diterapkan dalam beberapa dekade terakhir," ujar Jamie Fly, mantan pejabat pemerintahan Presiden George W. Bush.

Pidato Pence "tidak sepenuhnya membuang kerja sama di sejumlah isu seperti Korea Utara, tetapi pidato itu lebih menjelaskan penilaian AS terhadap niat dan tujuan China untuk mengganti peran AS dan mengurangi kedigdayaan AS," ujarnya.

Pesimisme Meluas

Sementara Trump dan Pence adalah tokoh-tokoh yang menyebabkan polarisasi, pandangan keras terhadap China di panggung politik AS semakin menyebar luas.

Tidak banyak anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mengajukan keberatan ketika Gedung Putih mengumumkan Strategi Keamanan Nasional yang menyebut China sebagai pesaing.

Pandangan mantan presiden Bill Clinton ketika dia menyambut China ke dalam tata perdagangan global bahwa kemakmuran akan memicu reformasi terbukti gagal total. Presiden Xi Jinping semakin keras dalam menghadapi pembangkang dalam negeri sementara kebebasan beragama sangat dikendalikan.

Para pemimpin bisnis AS yang sejak lama meminta hubungan lebih erat dengan China demi pasar besar negara itu kini semakin menjauh. Dunia bisnis negara itu mengeluhkan kegiatan mata-mata industri yang dibantah keras oleh Beijing.
Pidato Wapres AS Canangkan Persaingan dengan ChinaPresiden Donald Trump dan Wapres Mike Pence menyuarakan kebijakan keras pemerintah AS terhadap China yang kini dianggap sebagai pesaing kekuatan di tingkat dunia.  (Reuters/Mike Segar)
Survey yang dilakukan oleh Pew Research Center Agustus lalu menemukan bahwa warga Amerika yang memandang positif China turun hingga 38 persen.

Mantan perdana menteri Australia Kevin Rudd yang juga pakar masalah China dan kini ketua Asia Society di New York baru-baru ini mengatakan bahwa "langkah berhubungan" yang selama beberapa dekade menjadi dasar hubungan bagi Washington dan Beijing, "kini sudah mati secara resmi dan efektif".

"Akibatnya kita akan melihat konfrontasi strategi jangka menengah karena kedua kubu berlomba untuk mendapatkan pengaruh dan kini semakin terlihat keduanya berada dalam posisi seimbang," ujarnya.

Faktor Politik Domestik

Pemerintah China mengecam pidato Pence itu sebagai "tidak masuk akal."

Namun, pernyataan terbuka pihak China selalu terukur dan Menlu Wang Yi minggu lalu mengemukakan janji bahwa negara kuat China ini tidak berambisi mengambil alih status AS sebagai kekuatan global dan China ingin mengembangkan sistem multilateral yang stabil.
Tanpa menyebut secara jelas, Wang Yi mengemukakan kekhawatiran teori cendekia Universitas Harvard Graham Allison bernama "Thucydides Trap," yang menyebut pelajaran dari Athena dan Sparta dalam memperkirakan persaingan AS dengan China.

Beijing juga kemungkinan diuntungkan oleh keksiruhan kebijakan politik AS, ketika sekutu utama AS di Asia yaitu Jepang dan Korea Selatan kini dilanda ketegangan di sisi perdagangan dengan Trump.

Pidato Pence yang diadakan di satu lembaga penelitian konservatif, sebulan sebelum pemilihan umum anggota Kongres ini sebagian memang ditujukan untuk keperluan politik domestik.

Pence menuduh China melakukan tindakan yang lebih jahat dari Rusia, meski Trump kini sedang dibayangi oleh penyelidikan terkait kemungkinan tim kampanyenya berkolusi dengan Moskow.

Sebagai bukti keterlibatan China dalam pemilu AS, dalam pidatonya Mike Pence mengutip iklan di satu koran AS dan penerapan tarif balasan yang ditujukan pada sejumlah negara bagian yang penting secara politik. Meski sebenarnya kedua langkah itu merupakan praktek yang biasa dilakukan.

"China berpotensi menjadi penantang utama dalam kondisi ekonomi, politik dan strategi AS, tetapi memburukkan mereka dengan informasi setengah benar dan penuh distorsi hanya akan merumitkan upaya menemukan keseimbangan baru kepentingan dan bentuk baru hubungan dengan Beijing," kata Robert Manning, cendekia dari Atlantic Council. (yns/yns)