Kabar hilangnya Meng sudah diketahui Kepolisian Perancis dan segera menyelidiki kasus ini.
Diberitakan Reuters, Sabtu (6/10), Kementerian Dalam Negeri Perancis mengatakan kepolisian tengah menempatkan istri Meng dalam pengamanan ketat setelah dikabarkan menerima beberapa ancaman melalui telepon dan media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini belum jelas alasan Meng pergi ke China. Namun, mengutip sumber, South China Morning Post melaporkan bahwa pria 64 tahun itu sempat diinterogasi tak lama setelah mendarat di Negeri Tirai Bambu tanpa alasan jelas.
Sementara itu, Interpol mengatakan lembaganya telah mengetahui kabar bosnya "yang diduga hilang."
"Ini adalah masalah bagi otoritas terkait Perancis dan China," ucap Interpol melalui pernyataan.
Meng sempat terdaftar sebagai wakil menteri di situs Kementerian Keamanan Publik China, namun kehilangan jabatannya itu pada April lalu dalam Komite Partai Komunis.
Meng berkecimpung dalam bidang peradilan pidana dan kepolisian sejak 40 tahun lalu. Selama itu, dia biasa memimpin lembaga-lembaga yang berkaitan dengan hukum, pengendalian narkotika, dan penanggulangan terorisme.
Meski staf interpol memiliki paspor dan hak istimewa khusus, kekebalan tersebut tidak berlaku di negaranya.
Walaupun berada dipucuk kekuasan, Presiden Interpol selama ini dianggap hanya bersifat seremonial. Sebab, sebagian tugas Interpol -yang berfokus mencari orang hilang dan buronan kriminal negara anggotanya- dilakukan oleh sekretaris jenderal dan para staf di bawahnya. (rds/mik)