Analisis

Hilangnya Mantan Presiden Interpol Nodai Citra China

Tim , CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 09:47 WIB
Hilangnya Mantan Presiden Interpol Nodai Citra China Ilustrasi (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pengamat mengatakan bahwa citra China untuk memimpin organisasi internasional ternoda setelah kasus menghilangnya Meng Hongwei. Meng sebelumnya menjabat menjadi Presiden Organisasi Kepolisian Kriminal Internasional, Interpol, tiba-tiba menghilang dan belakangan China mengumumkan bahwa Meng terjerat kasus suap di negaranya.

Meng Hongwei terpilih sebagai presiden Interpol pada 2016 lalu. Kemenangan ini menjadi simbol keberhasilan upaya presiden Xi Jinping untuk memperbaiki citra China di mata internasional dan organisasi global.

Namun menjelang empat tahun kepemimpinannya di Interpol, Meng menghilang ditengah perjalanan dari ke Perancis, yang merupakan markas Interpol.


Setelah beberapa hari diam, otoritas China menyatakan bahwa Meng diduga menerima suap dan mengundurkan diri dari posisinya di Interpol. Meng dinyatakan hilang pada Jumat (5/9), sementara pemerintah China baru mengumumkan kasus suap yang menjerat Meng Minggu (7/10).

Selain menjadi Kepala Interpol, Meng juga menjabat sebagai Wakil Menteri Keamanan Publik China. Hilangnya tokoh ini secara mendadak membuat Interpol berada dalam situasi yang memalukan bagi organisasi yang memiliki misi kerja sama internasional.

Hal ini merupakan peringatan nyata bagi dunia mengenai taktik investigasi partai komunis yang kontras dengan proses hukum dan sistem pengadilan terbuka yang diberikan kepada para tersangka di negara-negara demokratis.

China mengatakan bahwa jatuhnya Meng adalah bukti bahwa tidak ada seorang pun diatas hukum. Tetapi, para pengamat melihat kampanye anti korupsi enam tahun Xi sebagai alat untuk melawan musuh-musuh politiknya yang skeptis.

"Ini akan berdampak buruk pada kekuatan China," kata Willy Lam, profesor politik Chinese University of Hong Kong.

"Ini menambahkan lebih banyak umpan bagi AS untuk menyerang China, dan kurangnya penegakan hukum," kata dia mengacu kepada pidato dari Wakil Presiden AS Mike Pence, mengenai hak asasi manusia China, kebijakan luar negeri, dan praktik perdagangan.

Presiden China Xi Jinping dalam berbicara dalam acara Interpol di Beijing tahun lalu (AFP PHOTO / POOL / Lintao Zhang)

Penyelidikan dibuka

Polisi Perancis membuka penyelidikan atas hilangnya Meng dan Interpol meminta klarifikasi dari Beijing.

Tetapi, pihak berwenang China mengatakan bahwa Meng sedang diselidiki karena menerima suap. Hal ini disampaikan tanpa memberikan rincian mengenai detil tuduhan atau dimana keberadaannya.

Beberapa cuitan mengenai pertemuan dan kegiatan yang diikutsertakan Meng dalam beberapa tahun terakhir menghilang dari situs web keamanan publik. Hal ini diketahui dari wartawan AFP yang memeriksa mendalam terhadap situs web itu.

Istri Meng, Grace Meng berbicara dengan wajah tersembunyi dari kamera di Lyon pada Minggu (7/10). Dirinya mengatakan kepada wartawan bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya dan dirinya mendapatkan ancaman dalam pesan teks yang dikirim kepadanya.

Kampanye anti-korupsi Xi telah menghukum lebih dari satu juta pejabat. Tetapi, beberapa analisis mengatakan kampanye itu memungkinkan presiden China menghapus saingan.

Salah satu contoh kekuasaan yang paling kuat dan sudah jatuh adalah mantan kepala kementrian keamanan, Zhou Yongkang. Dirinya mempromosikan Meng lebih dari satu dekade lalu dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2014.

Global Times mengutip dari seorang profesor dari sekolah partai komunis yang mengatakan bahwa kejahatan Meng mungkin tidak hanya terkait dengan korupsi tetapi juga membahayakan keamanan nasional.

Lam berspekulasi bahwa agensi anti-korupsi mungkin telah menemukan sesuatu yang kemudian menimbulkan keraguan terhaadp kesetiaan Meng terhadap Xi. Sebab, Xi menuntut kesetiaan absolut dari bawahannya.

Posisi China sulit

Lam juga mengatakan bahwa penanganan kasus ini akan membuat China sulit untuk mengambil tempat terkemuka pada organisasi global di masa depan.

Penasihat Senior Asia di Pusat Studi Strategis dan Internasional Washington, Bonnie Glaser mengatakan bahwa organisasi internasional harus berpikir dua kali untuk maju sebelum mempertimbangkan seorang kandidat China untuk menjadi kepalanya.

"Kecuali Interpol menekan untuk melakukan penyelidikan terbuka dan proses hukum untuk Meng Hongwei, pasti akan dikritik. Bagaimana mungkin organisasi kepolisian dunia tidak melakukan apa-apa?," kata dia.

Tetapi seorang profesor hubungan internasional di Universitas Renmin, Cheng Xiaohe mengatakan bahwa kasus ini merusak citra China. Ini juga menunjukkan bahwa China tidak terlalu peduli tentang menyelamatkan muka dalam masalah-masalah anti korupsi.

"Terlepas dari kerusakan apa yang dilakukan terhadap citra internasional, partai komunis China dan pemerintah tidak akan lunak terhadap korupsi dan akan menghukum mereka yang pantas dihukum," kata dia.

Juru bicara Kementrian Luar Negeri, Lu Kang mengatakan bahwa China akan terus bertindak sebagai kekuatan yang bertanggung jawab dan akan memainkan peran yang diperlukan dalam urusan internasional dan organisasi multilateral.

"Sebagai organisasi polisi terbesar di dunia. Interpol memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menyoroti kontribusi dari petugas polisi dalam pelayanan publik. Untuk mengingat karya mereka dan menghibur keluarga mereka," kata dia.

[Gambas:Video CNN] (cin/eks)