Bimbang Sanksi AS, Rp835 T Saudi dan Khashoggi

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 20/10/2018 08:00 WIB
Bimbang Sanksi AS, Rp835 T Saudi dan Khashoggi Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Raja Salman dari Saudi (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak yang dipertaruhkan Amerika Serikat jika harus memaksa Arab Saudi mengungkap peristiwa yang sebenarnya terjadi pada Jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman yang hilang setelah memasuki gedung konsulat kerajaan di Istanbul, Turki.

Salah satu yang dipertaruhkan adalah relasi politik dan bisnis antara Negeri Paman Sam dan Riyadh.

Salah satu peneliti Lowy Institute, Rodger Shanahan mengatakan kepada Business Insider bahwa AS disebut bisa kehilangan triliunan dolar investasi dan kerja sama perdagangan jika berani "mengusik" Saudi terkait kasus Khashoggi.


"Wacana di Washington soal penjatuhan sanksi terhadap pejabat Saudi itu berisiko mengingat ukuran relasi ekonomi antara AS dan Saudi," kata Shanahan.

Sejak Trump menjabat di Gedung Putih, relasi AS dan Saudi disebut kian menghangat. Tahun lalu, Riyadh dan Washington menyepakati perjanjian kerja sama senilai lebih dari US$55 miliar (setara Rp835 triliun) bersama sejumlah perusahaan pertahanan, industri manufaktur, serta perusahaan minyak dan gas AS.

Kerja sama multi-miliaran dolar itu disepakati untuk membantu Saudi mencapai visi misi modernisasi dan diversifikasi ekonominya pada 2030 mendatang.

Perjanjian itu juga mencakup kesepakatan Saudi untuk menggelontorkan dana investasi sebesar US$12 miliar (Rp182,2 triliun) perusahaan kilang minyak AS, Motiva Enterprises, yang merupakan anak perusahaan Aramco-perusahaan minyak dan gas negara Saudi.

Saudi diperkirakan akan mengutak-atik kesepakatan itu jika AS berani menjatuhkan sanksi terkait Khashoggi. Dikutip Agen Pers Saudi (SPA), seorang pejabat senior Saudi mengatakan "kerajaan akan membalas dengan tindakan yang lebih hebat jika menerima tindakan apa pun, dan perekonomian Kerajaan memiliki peran besar dan vital dalam perekonomian global."

Selain itu, sanksi AS kepada Saudi juga disebut bisa mengancam kesepakatan jual-beli senjata antara kedua negara yang bernilai hampir US$110 miliar (Rp1,6 kuadriliun). Dikutip CNN, Trump menganggap kesepakatan itu merupakan "investasi yang sangat dahsyat bagi AS."

Mengancam Bisnis Pribadi

Tak hanya bisnis antara kedua negara, Trump disebut enggan menindak keras Saudi lantaran hubungan bisnis yang cukup dekat dengan negara tersebut.

Laporan sejumlah senator AS baru-baru ini mengungkap bahwa Trump pernah pernah terlibat transaksi senilai US$325 juta (Rp4,8 triliun) dengan keluarga kerajaan terkait penjualan salah satu propertinya di New York pada 1995.

Dikutip Time, properti itu dijual untuk membayar utang bisnis Trump.

Pada 2001, Trump juga dilaporkan menjual Trump World Towernya kepada Saudi senilai US$12 juta. Saat kampanye pemilihan presiden 2016 lalu, Trump juga mendaftarkan setidaknya delapan perusahaan Saudi sebagai salah satu donornya.

Menanggapi tudingan melindungi Saudi dalam kasus Khashoggi, Trump pada Selasa (16/10) lalu membantah bahwa dirinya memiliki kepentingan finansial dengan Saudi melalui kicauannya di Twitter.



Selain Trump, menantu sekaligus penasihat pribadinya Jared Kushner juga memiliki kedekatan dengan Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman.

Kasus Khashoggi menyorot perhatian dunia setelah koresponden The Washington Post itu dinyatakan hilang pada 2 Oktober lalu. Dia tidak pernah terlihat lagi setelah memasuki gedung konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu untuk mengurus dokumen pernikahan.

Otoritas Turki meyakini bahwa Saudi telah membunuh koresponden The Washington Post itu di dalam gedung konsulat. Riyadh berkeras membantah seluruh tudingan dan menyebut bahwa Khashoggi telah keluar dari gedung konsulat dengan selamat.

Tak seperti negara barat lain yang mengecam keras, AS dinilai melindungi Saudi dalam kasus ini. Tudingan tersebut mulai berkembang setelah Trump, yang biasanya sangat cepat tersulut emosi, meminta publik untuk menerapkan asas praduga tak bersalah dalam menanggapi kasus Khashoggi.

Pernyataan itu diutarakan Trump tak lama setelah dirinya berkomunikasi dengan Raja Salman via telepon mendiskusikan masalah tersebut.

Sebelum komunikasi itu berlangsung, Trump mengancam akan menerapkan "hukuman berat" jika Saudi terbukti membunuh Khashoggi. (rds/eks)