Demokrat AS Kaitkan Retorika Trump dengan Paket Bom

Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 13:50 WIB
Demokrat AS Kaitkan Retorika Trump dengan Paket Bom Sejumlah paket yang diduga bom dikirim ke politisi partai Demokrat AS seperti Hillary Clinton, Barack Obama dan juga ke kantor CNN di New York. (ReutersKevin Coombs)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemarahan arus bawah yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi motor politik Amerika Serikat (AS) kini muncul ke permukaan melalui serangkaian pengiriman paket diduga bom ke politisi Partai Demokrat terkenal dan kantor CNN.

Pengiriman paket yang diduga bom ini terjadi pada Rabu (24/10) hanya kurang dari dua minggu pemilihan anggota kongres Amerika Serikat.

Tidak satu pun benda yang dikirim itu meledak dan tidak ada laporan soal korban akibatnya, namun sejumlah petinggi Partai Demokrat dengan cepat menyebut ancaman itu sebagai gejala dari bentuk retorika politik kasar yang dipromosikan oleh Presiden Donald Trump.


Presiden AS ini sendiri mengecam pengiriman paket yang diduga bahan peledak itu ke rumah Hillary dan Bill Clinton, kantor mantan presiden Barack Obama serta stasiun televisi CNN di New York.

Polisi AS berhasil menggagalkan enam paket yang diduga bom yang juga dialamatkan ke donor politik terkenal George Soros.

Ketika berkampanye, Trump secara rutin meminta pendukungnya meneriakkan "Penjarakan dia", yang ditujukan pada Hillary Clinton pesaingnya dari partai Demokrat.

Trump juga mendukung teori konspirasi bahwa Soros memainkan peran di balik layar untuk mempengaruhi panggung politik AS. Selain itu, dia juga meremehkan media utama dan mengkritik CNN dengan menyebut media ini sebagai "berita palsu".

Setelah insiden pengiriman paket diduga bom itu, di depan kampanye politik di Wisconsin pada Rabu (24/10) malam Presiden AS ini mengeluarkan pernyataan bernada persatuan dan berjanji untuk menangkap pelaku.

"Anda lihat malam ini saya bersikap baik, bukan? Apakah Anda pernah melihat ini?" tanyanya ke peserta kampanye di Mosinee, Wisconsin. "Kita semua berlaku baik dan semoga kita akan terus mempertahankannya."

Namun, kubu Demokrat tidak menerima begitu saja dengan mengatakan presiden dari Partai Republik ini tidak memiliki kredibilitas untuk menjadi tokoh pemersatu.

"Pernyataan-pernyataan Presiden Trump itu tidak berarti hingga dia mengubah pernyataannya dan mengecam aksi kekerasan," kata pemimpin Partai Demokrat di Senat Chuck Schumer dan Ketua Partai Demokrat di DPR AS Nancy Pelosi dalam pernyataan tertulis.

"Selama bertahun-tahun Donald Trump meminta agar pengkritiknya dipenjara dan mendukung kekerasan terhadap wartawan," kata anggota DPR AS Bill Pascrell dari daerah pemilihan New Jersey.

"Tingkat bahaya kelompok ekstrim sayap kanan tidak bisa dibiarkan dan harus ada perhatian lebih besar sebelum memburuk."
Demokrat AS Kaitkan Retorika Trump dengan Paket BomIsi paket yang dikirim ke kantor media CNN di New York yang diduga bom tetapi tidak meledak.  (Courtesy CNN/Handout via REUTERS)
Para politisi dari dua partai besar ini selalu menggemakan tema mengecam nada politik kasar dalam pidato-pidato mereka.

Politisi Partai Republik mengecam Partai Demokrat dan pegiat liberal dengan menyebut mereka sebagai "gerombolan", mengutuk pengunjuk rasa penentang calon Hakim Agung pilihan Donald Trump bernama Brett Kavanaugh, dan aksi mencegat anggota Kongres dari partai Republik di restoran dan tempat-tempat lain.

Satu survey yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos memperlihatkan bahwa kemarahan yang terus meningkat akan menjadi faktor ketika pemilih memberi suara mereka dalam pemilu legislatif 6 November mendatang.

Partai Demokrat berupaya merebut kembali kendali di salah satu majelis di Kongres Amerika Serikat dalam pemilu ini.

Nada Panas

Donald Trump kadang-kadang menyerukan citra kekerasan dalam pidato-pidatonya di hadapan pendukung.

Munggu lalu dia kembali menyuarakan dukungan pada anggota Kongres dari negara bagian Montana yang pada 2017 membanting tubuh seorang wartawan.

Agustus lalu, Trump memperingatkan jika Partai Demokrat kembali berkuasa di Kongres, mereka akan "dengan cepat dan kasar" mengubah agendanya.

Tahun lalu, dia mengatakan ada orang-orang jahat di kedua kubu yang bentrok di Charlottsville, Virginia, antara kelompok supremasi kulit putih dan kelompok penentangnya.

Sebagian pihak pihak penerima paket yang diduga bom pada Rabu, termasuk Obama, CLinton dan mantan Jaksa Agung Eric Holder, sudah menjadi sasaran kelompok-kelompok daring seperti QAnon yang mengeluarkan teori konspirasi bahwa partai Demokrat merupakan dalang lingkaran kejahatan internasional.

Unggahan-unggahan di dunia maya pun menyebut paket yang diduga bom itu sebagai "false flag" istilah yang merujuk pada satu tudingan bahwa liputan berita media-media adalah berita hoaks bermotivasi politik.

Paul Achter, guru besar retorika dari Universitas Richmond, mengatakan bahwa nada kekerasan yang sering digunakan oleh Trump meningkatkan kemungkinan terjadi aksi kekerasan.

"Penggunaan kata-kata secara tidak benar memiliki konsekuensi," kata Achter. "Hanya karena Trump tidak mengirim bom atau memukuli wartawan atau menembaki ruang redaksi tidak membuat pidato seperti itu bisa diterima."
Demokrat AS Kaitkan Retorika Trump dengan Paket BomRobot penjinak bom dikerahkan ke satu gedung di Florida yang berisi antara lain kantor politisi Partai Republik AS. (Reuters/Joe Skipper)
Tetapi anggota DPR dari Partai Republik Steve Scalise, yang tahun lalu menjadi korban penembakan ke arah anggota partai Republik yang sedang bermain baseball, Demokrat melakukan kesalahan karena mengkritik Trump atas kiriman paket diduga bom itu.

"Menurut saya penting bagi presiden untuk mengeluarkan pernyataan semacam itu, yang keras," uarnya dalam pernyataan tertulis.

"Sering kali saya tidak mendengar pernyataan apapun dari para pemimpin Partai Demokrat ketika kubu Partai Republik diserang. Kami semua harus mengeluarkan pernyataan itu, apakah seorang anggota Partai Demokrat atau Partai Republik diserang." (yns/yns)