China dan Rusia Kerap Sadap iPhone Trump

Tim , CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 09:49 WIB
China dan Rusia Kerap Sadap iPhone Trump Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Intelijen China dan Rusia disebut kerap menyadap telepon seluler milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dengan demikian, setiap panggilan telepon yang dilakukan oleh Trump bisa didengakan oleh intelijen kedua negara itu. Meski demikian, Trump tetap menggunakan ponselnya itu untuk melakukan telepon, demikian dilaporkan The New York Times, Rabu (24/10).

Disebutkan dalam laporan itu bahwa iPhone Trump kerap digunakan untuk bergosip, berkeluh kesah, atau meminta bantuan kepada teman-teman lamanya.

Namun, intelijen AS memperingatkan bahwa mata-mata China sering menyadap dan memanfaatkan informasi berharga yang mereka dengar untuk mencari cara untuk memanfaatkan Presiden untuk memengaruhi kebijakan administrasinya.


Laporan The Times ini berdasarkan kutipan dari pejabat yang saat ini menjabat dan mantan pejabat. Mereka menyebut bahwa mata-mata Cina telah mendengarkan panggilan iPhone Trump. Para pembantu Presiden juga telah memberitahunya bahwa mata-mata Rusia tengah mendengarkan pembicaraannya secara teratur.

Namun, Trump menolak untuk menyerahkan iPhone miliknya. Pejabat Gedung Putih hanya berharap bahwa Trump bisa menahan diri agar tidak membocorkan informasi rahasia ketika tengah berbincang dengan kawan-kawannya itu.

Penggunaan telepon seluler Trump selalu dicatat selama ia menjabat setelah para ahli keamanan mengemukakan kekhawatiran mereka soal keamanan informasi.

Pada April, CNN mencatat bahwa ketika John Kelly menjadi kepala staf keamanan, Trump membuat lebih banyak panggilan telepon melalui switchboard Gedung Putih. Switchboard adalah telepon khusus yang disediakan di Gedung Putih. Tapi, setelah itu, Presiden lebih sering melakukan panggilan melalui ponselnya.

Laporan New York Times mengatakan para pejabat frustasi untuk mengingatkan Trump agar tidak membuat panggilan menggunakan perangkat seluler yang tidak terjamin keamanannya itu.

Para pejabat itu mengatakan kepada Times bahwa China sedang berusaha memanfaatkan hasil sadapan pembicaraan Trump untuk membantu negara itu dalam perselisihan perang dagang dengan AS.

Menurut mereka, China telah mencatat percakapan Trump dengan Stephen Schwarzman, kepala Grup Blackstone, dan Steve Wynn, seorang tokoh Las Vegas yang mendirikan investasi besar di Makau, pusat perjudian di Tiongkok.

Wynn mengundurkan diri sebagai ketua keuangan untuk Komite Nasional Partai Republik Januari lalu menyusul tuduhan pelanggaran seksual. Namun, ia membantah tuduhan itu.

China, pada gilirannya, mulai menggunakan para pebisnisnya untuk mencoba mempengaruhi orang-orang yang terkait dengan masalah itu dengan Trump. Sehingga mereka berharap agar informasi itu akan sampai kepada Presiden.

Seorang pengacara untuk Wynn mengatakan kepada Times bahwa Wynn sudah pensiun dan menolak berkomentar. Sementara itu juru bicara Blackstone mengatakan Schwarzman "telah dengan senang hati melayani sebagai perantara untuk masalah-masalah kritis tertentu antara kedua negara atas permintaan kedua kepala negara."

Juru bicara Schwarzman Christine Anderson mengatakan kepada CNN dia tidak memiliki komentar tambahan.

Sebelumnya, Trump berbicara kepada Wall Street Journal minggu ini bahwa ia memiliki kebijaksanaan tentang informasi yang dikirimkan melalui teleponnya. (eks/eks)