Dikutip dari AFP, Abbas mengatakan hal tersebut saat pertemuan dengan para pemimpin PLO dalam rangka membicarakan langkah selanjutnya yang akan diambil.
Berbicara dalam pembukaan pertemuan dewan pusat PLO yang terbilang langka digelar, Abbas mengatakan bahwa rakyat Palestina saat ini menghadapi fase terburuk dalam sejarah mereka seraya menyebutkan sejumlah langkah kontroversial yang diambil Trump termasuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia membandingkan proposal perdamaian yang akan diajukan Trump dengan Deklarasi Balfour 1917 silam, dimana Inggris menyatakan komitmennya dalam pembentukan sebuah negara untuk etnis Yahudi di wilayah Palestina.
"Jika Deklarasi Balfour lolos, kali ini tak akan lolos," kata Abbas.
"Mereka (AS) masih berbicara soal kesepakatan besar, dan itu akan mereka hadirkan pada bulan-bulan ini," kata Abbas menyindir Trump.
Lebih lanjut Abbas juga menegaskan pemerintahannya bakal memperbarui dukungan finansial kepada para keluarga Palestina yang terbunuh atau dipenjara Israel.
Israel memandang sokongan finansial kepada keluarga yang menyerang warganya sebagai upaya menyuburkan terorisme. Washington juga mengkritik kebijakan itu.
"Pemberian bantuan keuangan kepada para martir dan tahanan telah menjadi posisi tegas kami," ujar Abbas. (wis)