Tuduh Iran Rencanakan Pembunuhan, Denmark Tarik Duta Besar

CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 15:59 WIB
Tuduh Iran Rencanakan Pembunuhan, Denmark Tarik Duta Besar Serangan teror saat parade militer Iran pada 22 September lalu. (AFP PHOTO / ISNA / MORTEZA JABERIAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Denmark memutuskan menarik duta besarnya di Ibu Kota Teheran, setelah menuding intelijen Iran merencanakan pembunuhan di negaranya.

Selain menarik dubesnya, Denmark bahkan mendesak Uni Eropa menjatuhkan sanksi baru bagi Iran.

Kepala Intelijen Denmark, Finn Borrch Andersen, mengatakan rencana pembunuhan itu menargetkan pemimpin Gerakan Perjuangan Arab untuk Pembebasan Ahvaz (ASMLA). ASMLA merupakan sebuah kelompok separatis yang memiliki riwayat panjang melakukan serangan di Iran.


"Kami sedang berurusan dengan agen intelijen Iran yang merencanakan serangan di tanah Denmark. Tentunya, kami tidak bisa dan tidak akan menerimanya," tutur Andersen seperti dikutip The Guardian pada Rabu (31/10).


Andersen mengungkapkan bulan lalu polisi Denmark memberlakukan pengetatan keluar-masuk kendaraan dari dan menuju Copenhagen. Langkah itu dilakukan aparat setelah polisi melihat sebuah mobil curian berpelat Swedia didekat rumah seorang aktivis oposisi Iran.

Khawatir rencana pembunuhan sudah dekat, pemerintah Denmark menutup jembatan Oresund yang menghubungkan Denmark-Swedia dan jembatan Green Belt antara pulau-pulau Selandia dan Funen.

Ribuan polisi dan tentara Denmark menggunakan kendaraan, anjing pelacak, dan helikopter untuk mencari mobil yang diduga sewaan itu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Denmark Anders Samuelsen mengatakan rencana pembunuhan yang gagal ini benar-benar tidak dapat diterima. Anders menyatakan Denmark akan merespons rencana itu dengan membujuk negara sahabat mereka turut menekan Iran.

Tudingan terhadap Iran ini muncul tak lama setelah Teheran memanggil duta besar Inggris, Denmark, dan Belanda guna mendesak ketiga negara itu mengekstradisi buronan yang dianggap bertanggung jawab atas serangan teroris pada 23 September lalu di Ahvaz. Kejadian itu menewaskan 24 orang.

ASMLA semula mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, tetapi kemudian menarik kembali klaimya.


Selain Denmark, Perancis juga baru-baru ini menyatakan tudingan serupa terhadap Iran. Pada awal Oktober, Perancis menuding Kementerian Intelijen Iran bertanggung jawab atas upaya teror bom yang menargetkan organisasi oposisi Iran berbasis di Paris pada Juni lalu.

Perancis menahan enam orang termasuk seorang diplomat Iran dalam insiden tersebut.

Iran menyangkal seluruh tudingan itu. Mereka menyebutnya sebagai konspirasi sabotase hubungan Iran dengan negara-negara Eropa. (ayp/ayp)