Kisah Yahudi Denmark Lari dari Perburuan Nazi

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 16/10/2018 23:31 WIB
Kisah Yahudi Denmark Lari dari Perburuan Nazi Ilustrasi Nazi. (REUTERS/Ronen Zvulun)
Jakarta, CNN Indonesia -- Freddy Vainer baru berusia empat tahun ketika dia dan keluarganya dipaksa untuk melarikan diri dari Kopenhagen, Denmark agar tidak dideportasi ke kamp konsentrasi Nazi.

"Kakek saya berada di Sinagoga pada 1 Oktober 1943 ketika dirinya tahu bahwa dia harus melarikan diri," kata dia.

Saat itu, hampir 7.000 orang Yahudi di Denmark melakukan perjalanan ke Swedia dengan menggunakan perahu.


Denmark diduduki oleh Nazi Jerman sejak April 1940. Denmark menyerah namun tetap mempertahankan kemerdekaan berbagai lembaganya hingga 1943. Hal ini dilakukan ketika pemerintah Denmark dipaksa untuk mengundurkan diri.

Cecilie Banke, seorang peneliti di Institut Studi internasional Denmark mengatakan kepada AFP bahwa pada awalnya, populasi Yahudi terlihat aman dan tidak dipaksa mengenakan simbol Bintang Daud. Namun, pada September tahun itu semua berubah.

Dirinya mengatakan bahwa rencana itu bocor dari dalam otoritas Jerman, sehingga penduduk Yahudi Denmark diberikan peringatan.

"Ini merupakan inti dari operasi penyelamatan, penduduk Yahudi tahu sehingga mereka benar-benar bisa melarikan diri dan karena informasi bocor, penduduk Denmark juga bisa membantu orang Yahudi melarikan diri," kata dia.

"Ini merupakan pengecualian dalam kisah orang Yahudi di Perang Dunia II," kata Silja Vainer, istri dari Freddy.

Lebih dari 6.500 orang Yahudi yang tinggal di Kopenhagen meninggalkan rumah mereka dan bersembunyi di dekat pantai wilayah utara ibu kota sebelum akhirnya melarikan diri lewat laut. Sebagian besar mereka melarikan diri ke berbagai kota Gilleleje dan Snekkersten.

Sementara Freddy dan keluarganya bersembunyi di sebuah rumah di kota pantai barat laut Hellebeckeck sebelum menemukan seseorang untuk membawa mereka menyebrangi laut. Sebanyak 197 lainnya ditangkap dan mencoba melarikan diri.

Kisah Pelarian Yahudi di Denmark dari NaziBendera Nazi (AFP PHOTO / Scott Olson)

Pelarian yang dibayar mahal

Seorang nelayan setuju untuk mengambil lima orang dari delapan anggota keluarga Freddy. Sehingga Freddy bersama dengan Ibu dan neneknya tinggal di dermaga sebelum akhirnya menyebrang.

Tidak hanya itu, biaya perjalanan rata-rata $3.100 (Rp 48 juta).

"Kakek saya juga membayar orang lain yang tidak punya uang, sehingga semua orang bisa melarikan diri," kata Freddy.

Namun, orang-orang yang menyelundupkan teman-teman keluarganya menolak untuk berlayar bersama orang dewasa dan anak-anak.

Freddy harus bersembunyi di panti asuhan selama beberapa hari bersama saudara dan sepupunya, sementara orang tuanya mulai menyebrang.

"Suatu hari beberapa orang datang dan menyuruh kami mandi di sebuah bak kayu besar dan kemudian kami pergi," kata dia.

"Ketika kami di pantai, saya ingat batu dan suara (ombak). Kemudian seseorang membawa dan menempatkan saya di perahu dan menyembunyikan saya dibawah jaring nelayan," kata Silja saat berada di apartemennya yang penuh dengan foto keluarga.

Kemudian, mereka ditempatkan di sebuah kapal dalam perjalanan ke Swedia. Silja dipersatukan kembali dengan keluarganya saat kedatangan, kecuali kakek dan nenek dari pihak ayahnya yang menolak untuk meninggalkan Denmark.

Mereka dideportasi ke kamp konsentrasi Theresienstadt, sekitar 500 orang Yahudi Denmark berada disana, sebanyak 50 di antaranya meninggal.

Namun, kakek dan nenek Silja kembali ke Denmark setelah berakhirnya perang.
Kisah Pelarian Yahudi di Denmark dari NaziIlustrasi (REUTERS/Tiksa Negeri)

Swedia menerima Yahudi

Pada September 19433, Swedia secara netral resmi menawarkan suaka kepada orang Yahudi Denmark dan bersiap menyambut mereka.

"Kami melarikan diri dengan tidak ada pakaian ditubuh kami ketika kami tiba di Swedia," kata Freddy.

Anggota keluarga yang bekerja sebagai penjahit di kota industri tekstil, Boras di dekat pantai barat.

Sementara itu Silja dan keluarganya pindah ke pusat kota di Vingaker. Dirinya menunjukkan beberapa foto seorang gadis berambut panjang yang tersenyum dan bermain dengan saudara laki-lakinya bersama tetangganya saat itu.

Mereka kembali ke Denmark setelah negara itu dibebaskan oleh sekutu pada 5 Mei 1945.

Silja dan Freddy tidak dapat kembali ke apartemen lama mereka yang disewakan kepada keluarga lain. Namun, mereka dengan cepat menemukan perumahan baru.

"Kota Kopenhagen memastikan bahwa semua barang orang Yahudi yang dipaksa melarikan diri, disimpan dalam kondisi baik dan kami memulihkan semuanya," kata dia.

Dalam perjalanan ke kelas pertama mereka di sekolah Yahudi di Kopenhagen ketika mereka masih anak-anak. Mereka tidak berbicara tentang pengalaman mereka.

"Salah satu teman sekelas saya kehilangan ayahnya, seorang saudara laki-laki dan perempuan selama perjalanan, dan dia tidak pernah membicarakannya," ujar seorang mantan guru itu.

Tidak ada kata yang diucapkan mengenai pelarian mereka dalam keluarganya.

"Kita tidak bisa menghindar untuk membicarakannya," kata Silja.

"Aku mengalami mimpi buruk sepanjang hidupku dan berusaha keras untuk tidak menangis," katanya sambil menitikkan air mata. (cin/eks)