Jokowi Minta Negara Kepulauan Bersikap Seperti Moana

CNN Indonesia | Kamis, 01/11/2018 15:52 WIB
Jokowi Minta Negara Kepulauan Bersikap Seperti Moana Joko Widodo meminta negara-negara kepulauan bersama menghadapi berbagai tantangan masalah laut dengan kuat, layaknya tokoh kartun Moana, bukan Cinderella. (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)
Manado, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo kembali menggunakan tokoh-tokoh rekaan dalam pidatonya untuk menganalogikan situasi permasalahan terkini. Dia meminta negara-negara kepulauan untuk bersama-sama menghadapi berbagai problem laut dengan kuat, layaknya tokoh kartun Moana, bukan Cinderella.

Pidato Jokowi itu disampaikan dalam pembukaan Forum Negara Kepulauan dan Negara Pulau (Archipelagic dan Island State/AIS), yang dibacakan oleh Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, di Manado, Kamis (1/11).

"Negara kepulauan seharusnya tidak mencitrakan diri sebagai Cinderella. Kita harus menjadi Moana, anak perempuan yang memiliki semangat inovatif, dan selalu optimis dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya di dalam maupun luar perbatasannya," kata Luhut.
Moana adalah film kartun gadis Polinesia yang mencari jati diri dan memperjuangkan nasib kampung halamannya dengan menjelajahi lautan menggunakan rakit kecil.


Layaknya Moana, Jokowi menyatakan para penduduk di negara-negara kepulauan juga tinggal di tengah lautan luas dengan segala tantangannya yang kian besar, terutama di tengah situasi iklim pemanasan global.

Dengan kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global, negara-negara pulau dan kepulauan menjadi wilayah paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Forum AIS yang digagas oleh Indonesia bersama Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) ini pun dibentuk sebagai wadah untuk menjalin kerja sama konkret atas semua tantangan bersama itu.
Jokowi Minta Negara Kepulauan Jadi Moana, Bukan CinderellaMenko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan, membacakan pidato Presiden Joko Widodo dalam pembukaan AIS Forum di Manado, Kamis (1/11). Dok. Kemenko Maritim)
Kemenko Maritim menyatakan bahwa forum ini juga wadah bagi pemerintahan negara-negara anggota untuk terlibat dan berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan, mulai dari sektor swasta, masyarakat sipil, dan akademisi, mengenai terkait isu perlindungan laut.

"Forum ini bisa menjadi ajang berbagi pengetahuan, mencari solusi cerdas dan kreatif, diperbesar dan diperbanyak untuk digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan," demikian bunyi pidato Jokowi.

Dalam pertemuan ini, para anggota AIS Forum menyepakati Deklarasi Manado yang berisi komitmen negara negara anggota untuk memperkuat komitmen kerja sama pada empat isu khusus.
Isu tersebut adalah mitigasi perubahan iklim dan manajemen bencana, tantangan dan peluang ekonomi, sampah plastik di laut, serta tata kelola maritim.

Negara anggota Forum AIS ini sendiri ada 49, tapi yang menghadiri pertemuan tingkat menteri di Manado dan menyaksikan penandatanganan deklarasi tersebut berjumlah 21, di antaranya Singapura, Timor Leste, Papua Nugini, Fiji, Madagaskar, Sri Lanka, dan Inggris.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Direktur UNDP untuk Indonesia, Christophe Bahuet, mengatakan bahwa forum ini berkontribusi besar dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) karena fokus pada solusi praktis.

"Forum AIS akan fokus pada solusi pengembangan praktis dan akan membuka peluang baru bagi negara pulau dan kepulauan kecil yang rentan terhadap perubahan iklim untuk menemukan cara inovatif dalam melindungi sumber daya laut sambil meningkatkan pendapatan mereka," kata Bahuet.
Untuk dana awal dari Forum AIS ini sendiri, Luhut mengatakan bahwa UNDP sudah meminta pemerintah Indonesia menjaminkan US$1 juta, sementara lembaga internasional itu akan menghimpun uang dari berbagai pihak.

"Uang bisa didapat dari mana saja, yang penting ini jalan dulu karena memang mendesak," kata Luhut. (has)