Ingin Lepas Dari Prancis, Kaledonia Baru Gelar Referendum

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 18:15 WIB
Ingin Lepas Dari Prancis, Kaledonia Baru Gelar Referendum Pendukung pemberontak Kaledonia Baru berkumpul dan mengibarkan bendera. (Ludovic MARIN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kaledonia Baru, sebuah wilayah koloni Prancis yang berada di Samudera Pasifik dikabarkan akan menggelar referendum pada Minggu (4/11) pekan ini. Jajak pendapat itu dilakukan untuk menentukan apakah mereka akan merdeka atau tetap berada di bawah kendali Prancis.

Sekitar 175 ribu warga Kaledonia Baru diharapkan dapat memberikan suara mereka dalam referendum itu. Masalah mendasar mengapa penduduk asli Kaledonia Baru memilih merdeka lantaran mereka merasa tidak mendapat apa-apa. Padahal, Prancis bertahun-tahun mendapat keuntungan besar dari menambang berton-ton nikel di salah satu kota setempat, Thio.

Sebuah jajak pendapat permulaan menunjukkan sebanyak 75 persen warga akan memilih berpisah dari Prancis, khususnya di wilayah yang penduduknya pro-kemerdekaan.


"Lihatlah bagaimana kita hidup hari ini, jika kami independen, kami bisa menerima keuntungan dari tambang," kata Calixte, dikutip The Guardian, Jumat (2/11).
Namun, jika pemungutan suara gagal, wilayah itu masih akan diperbolehkan mengadakan dua referendum lebih lanjut selama empat tahun kedepan.

Thio, merupakan kota pertambangan di Kaledonia Baru. Meskipun Thio merupakan kota pertambangan dan memiliki banyak sumber daya alam, penduduk setempat menganggap kondisi ekonomi mereka tidak akan membaik jika tidak memutuskan hubungan dengan Prancis.

"Di Thio, kami telah mengalami eksploitasi selama 165 tahun, dan kami masih hidup dalam kesengsaraan," kata Aurélien Calixte, aktivis pro-kemerdekaan di sebuah rapat umum.

Kesejahteraan Timpang

Pada 1880, perusahaan penambangan yang dikelola negara, SLN memulai menambang di nikel di Thio. Kaledonia Baru pun menjadi produsen nikel terbesar ketiga di dunia yang diserap Kanada, China, dan Eropa.

Namun, tambang itu dianggap tidak membuat masyarakat setempat sejahtera. SLN beralasan sebagian besar keuntungan mereka dikembalikan ke masyarakat lokal, dan sebanyak 60 persen dari pendapatan kotornya tetap berada di wilayah itu. Namun, penduduk mengatakan bahwa hanya secuil dari keuntungan perusahaan yang mereka rasakan dari bisnis tambang itu.
"Prancis mengambil begitu banyak sumber daya, dan penderitaan ekonomi kita akan tetap ada," kata Odette Moindou, seorang politikus di Thio.

Bahkan, masyarakat yang bukan berasal dari Kaledonia Baru mengatakan mereka telah disakiti oleh tambang yang dikelola oleh Prancis.

"Di mana uang dari tambang yang dapat membantu kami keluar dari situasi yang mengerikan ini?" kata Christian Bull, seorang petani dari Thio dan keturunan Prancis.

"Para pemuda di sini tidak memiliki pemikiran lain selain meninggalkan Thio dan pergi ke ibu kota Noumea untuk mencari nafkah," kata dia.

Tingkat pengangguran di Thio mencapai 30 persen, dan 97 persen penduduknya hanya bersekolah hingga tingkat menengah.

Di masa lalu gerilyawan Front Pembebasan Nasional Sosialis Kanak (FLNKS) sempat terlibat perang sipil dengan pasukan kolonial Prancis. Namun, mereka mengakhirinya dengan perjanjian damai yang ditandatangani bersama, dengan catatan distribusi hasil sumber daya alam akan lebih adil.
Meski begitu, para imigran dari Prancis justru menikmati upah yang jauh lebih tinggi di Thio daripada penghasilan mereka di Prancis. (ayp/ayp)


ARTIKEL TERKAIT