Skandal Video Cabul, Mendagri Afrika Selatan Enggan Mundur

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 17:37 WIB
Skandal Video Cabul, Mendagri Afrika Selatan Enggan Mundur Menteri Dalam Negeri Afrika Selatan, Malusi Gigaba. (REUTERS/Mike Hutchings)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri Afrika Selatan, Malusi Gigaba menolak mundur dari jabatannya, setelah rekaman hubungan intimnya dengan sang istri bocor ke masyarakat. Tekanan itu datang dari lawan politik dan kelompok masyarakat setempat.

"Saya tidak akan mengundurkan diri. Saya jelas akan diberi petunjuk oleh Presiden Afsel Cyril Ramaphosa dan Kongres Nasional Afrika," ucap Gigaba kepada saluran televisi swasta lokal eNCA, Minggu (5/11).

Berbicara kepada kantor berita publik SABC, Gigaba menganggap penyebaran video tersebut bermotif politik. Gigaba mengaku dia dan sang istri tidak malu terkait kasus ini.
"Kami (Gigaba dan istrinya) sama sekali tidak merasa malu terkait hal ini," kata Gigaba seperti dikutip AFP.


"Saya tidak punya masalah, itu (video) dimaksudkan untuk mempermalukan saya, untuk melumpuhkan saya secara politik, untuk mempermalukan saya dan keluarga saya di depan publik, untuk mempermalukan Kongres Nasional Afrika."



Pernyataan itu diutarakan Gigaba menyusul desakan sejumlah pihak yang dianggap ingin menyingkirkannya dari jajaran petinggi pemerintahan.

Pria 47 tahun itu menganggap dirinya telah menjadi target upaya pemerasan oleh sejumlah lawan politik. Dia menganggap bocornya video porno itu sebagai sebuah pencurian melalui peretasan.

Sebab, dia mengaku ponselnya diretas sebelum video tersebut beredar di kalangan politikus bahkan publik secara luas.
"Ini bukan hanya soal melindungi integritas dan citra saya, keputusan saya untuk mempertahankan jabatan adalah untuk memastikan bahwa saya tidak menjadi korban dari kampanye politik yang jahat. Saya tidak akan terinjak-injak," papar Gigaba.

Dia mengatakan akan segera menemui Presiden Ramaphosa untuk menjelaskan hal itu.

Dalam kasus berbeda, Ombudsman Afsel juga menyerukan Gigaba untuk mundur setelah lembaga tersebut menganggapnya berbohong saat bersaksi mengenai sebuah kasus yang melibatkan perusahaan keluarga konglomerat Oppenheimer.
Dalam kasus tersebut, pengadilan meminta Gigaba bersaksi apakah dia pernah menyetujui permintaan Oppenheimer terkait sebuah terminal privat di Bandara Internasional Johannesburg. (rds/ayp)