Australia dan Malaysia Adu Mulut soal Yerusalem

CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 13:22 WIB
Australia dan Malaysia Adu Mulut soal Yerusalem Ketegangan bermula ketika Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menyampaikan pendapatnya mengenai isu tersebut saat bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, di sela KTT ASEAN di Singapura, Kamis (15/11). (Reuters/Lai Seng Sin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Indonesia, kini Malaysia juga berseteru dengan Australia terkait rencana pemindahan kedutaan besar Negeri Kangguru untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Ketegangan bermula ketika Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menyampaikan pendapatnya mengenai isu tersebut saat bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, di sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Singapura, Kamis (15/11).

"Saya mengatakan bahwa untuk mengatasi terorisme, kita harus tahu penyebabnya. Menambah penyebab terorisme tidak akan membantu," ujar Mahathir kepada wartawan setelah pertemuan itu.
Rencana Australia ini memang dianggap sejumlah pihak dapat memperdalam jurang konflik antara Israel dan Palestina karena keduanya memperebutkan Yerusalem sebagai ibu kota mereka kelak.


Namun, Menteri Keuangan Australia, Josh Frydenberg, kemudian mengingatkan bahwa Mahathir sendiri pernah menyulut ketegangan di kawasan, terutama ketika ia dengan bangga melabeli dirinya anti-Semit dalam pidatonya pada 2013 lalu.

"Dia menyebut Yahudi orang berhidung bengkok. Dia juga mempertanyakan jumlah orang yang tewas dalam Holocaust," ucap Frydenberg sebagaimana dikutip Reuters.
Di tengah ketegangan ini, Morrison kemudian membela Frydenberg dan menekankan bahwa Australia tidak akan pernah membiarkan negara lain mendikte mereka.

"Saya pikir yang dikatakan Josh hari ini hanya mengungkap sejarah rekam jejak [Mahathir] mengenai beberapa isu selama ini," kata Morrison.

Melanjutkan pernyataannya, Morrison berkata, "Jangan macam-macam. Saya tidak akan membiarkan kebijakan kami didikte oleh orang dari negara lain."
Selain Malaysia, hubungan Indonesia dengan Australia juga sempat tegang karena rencana pemindahan kedubes ini.

Setelah Morrison mengutarakan rencana ini, Indonesia langsung merilis pernyataan kecaman dan memanggil duta besar Australia untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

Ketegangan ini disebut-sebut dapat menghambat proses penyelesaian kesepakatan perdagangan bebas kedua negara yang tertuang dalam Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
Untuk meluruskan masalah ini, Morrison mengangkat isu rencana pemindahan kedubes itu ketika bertemu Presiden Joko Widodo di sela KTT ASEAN di Singapura.

Morrison menegaskan bahwa hingga saat ini, Australia belum memutuskan apa pun terkait rencana tersebut.

Namun, tak lama setelah itu, seorang senator dari Tasmania, Eric Abetz, meminta pemerintahan Morrison mempertimbangkan pencabutan bantuan bagi Indonesia jika Jakarta terus "mendikte" Canberra soal pemindahan kedutaan Israel ke Yerusalem.

Menanggapi desakan ini, Morrison hanya berkata, "Australia selalu ada untuk Indonesia, dan itu dihargai dan diapresiasi oleh Indonesia." (has/has)