Jaksa Ungkap Misi Pembunuhan Khashoggi Versi Arab Saudi

CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 18:05 WIB
Jaksa Ungkap Misi Pembunuhan Khashoggi Versi Arab Saudi Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jaksa penuntut umum Arab Saudi merilis laporan kronologi pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi yang terjadi di konsulat mereka di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Berikut simpulan penyelidikan Saudi mengenai kronologi jurnalis pengkritik kebijakan Putra Mahkota tersebut hingga berakhir tewas dimutiltasi.

Perencanaan misi pembunuhan


Dimulai pada 29 September, "mantan" kepala intelijen memberikan perintah bagi "pemimpin misi" untuk membujuk Khashoggi kembali ke Arab Saudi. Jika bujukannya gagal, maka ia harus dipulangkan secara paksa.

Meski tak menyebut langsung nama mantan kepala intelijen yang dimaksud, belakangan ini nama Ahmad Al-Assiri yang baru saja dipecat disebut-sebut terkait dengan kasus ini.

"Pemimpin" yang ditunjuk tersebut kemudian membentuk tim berisi 15 orang untuk menjalankan misi Khashoggi.
Tim ini terdiri dari seorang ahli forensik yang bertugas menghilangkan bukti dari tempat kejadian, dan seorang kolaborator lokal yang berperan mengamankan lokasi jika negosiasi Khashoggi harus menggunakan kekerasan.

Salah satu mantan kolega Khashoggi juga terlibat dalam pembunuhan itu karena memiliki hubungan baik dengannya.

Seorang mantan penasihat kerajaan Saudi kemudian mengumpulkan tim itu dan mengatakan bahwa Khashoggi "kemungkinan sudah dipilih menjadi ketua satu organisasi dan hidup mengasing dari kerajaan."
Ia juga mengatakan bahwa kediaman Khashoggi di luar Arab Saudi merupakan "ancaman bagi keamanan nasional."

Selama ini, Khashoggi memang kerap dikaitkan dengan kelompok Muslim Brotherhood dan hidup mengasing di Virginia, Amerika Serikat, sejak 2017.

Mereka kemudian menyepakati bahwa rencana ini akan dieksekusi pada 2 Oktober, ketika Khashoggi dijadwalkan datang ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengurus dokumen keperluan pernikahan dengan tunangannya, Hatice Cengiz.

Eksekusi

"Kepala tim memutuskan untuk membunuh korban jika negosiasi ini gagal," demikian bunyi pernyataan yang dirilis oleh jaksa penuntut, sebagaimana dikutip AFP.

Hingga akhirnya tiba tanggal 2 Oktober. Saat bernegosiasi, sempat terjadi pertengkaran fisik yang menyebabkan Khashoggi harus disuntik dengan obat dosis tinggi.

"Ia mengalami overdosis yang menyebabkan kematian. Semoga Allah memberkati jiwanya," tulis jaksa penuntut.
Jaksa Ungkap Fakta Pembunuhan Khashoggi Versi Arab SaudiCuplikan CCTV ketika Jamal Khashoggi memasuki gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul. (Courtesy TRT World/Handout via Reuters)
Berdasarkan pernyataan resmi Saudi, Khashoggi memang disebut tewas akibat overdosis.

"Setelah pembunuhan terjadi, tubuh korban dipotong-potong oleh orang-orang yang melakukan pembunuhan, serta dibawa ke luar gedung konsulat," tulis jaksa.

Kemudian, seorang pria dalam tim itu mengenakan pakaian Khashoggi dan menyamar sebagai wartawan itu, kemudian keluar gedung konsulat.

Penyamaran ini dilakukan untuk mengalihkan tim penyelidik sehingga seakan-akan Khashoggi sudah meninggalkan gedung konsulat.

[Gambas:Video CNN]

Menurut tim penyelidik, berbagai kamera di dalam konsulat dimatikan selama pembunuhan berlangsung.

Hingga kini, pihak berwenang Saudi sudah mendakwa 11 dari 21 tersangka. Jaksa telah menuntut hukuman mati bagi lima terdakwa yang diduga memberikan perintah serta mengawasi jalannya pembunuhan.

Pihak berwenang sedang melakukan pencarian terhadap seorang kolaborator lokal yang melarikan diri.

Sembari membeberkan fakta ini, jaksa Saudi tetap menekankan bahwa Putra Mahkota yang kerap dikritik Khashoggi, Mohammed bin Salman, sama sekali tak mengetahui mengenai rencana pembunuhan ini. (cin/has)