Pemberontak Yaman Gencatan Sementara Dengan Koalisi Saudi

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 18:43 WIB
Pemberontak Yaman Gencatan Sementara Dengan Koalisi Saudi Pemberontak Huthi di Yaman. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok pemberontak Huthi di Yaman mendesak pimpinannya menghentikan sementara serangan rudal ke pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi, saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersiap untuk pembicaraan damai.

Kepala Dewan Revolusioner Pemberontak Yaman, Muhammad Ali Al-Huthi dan beberapa tokoh politik juga menuliskan cuitan di Twitter ingin supaya menangguhkan dan menghentikan seluruh operasi militer.

"Semua (Huthi) di Yaman resmi mengeluarkan arahan untuk mengakhiri peluncuran rudal dan pesawat tanpa awak terhadap negara itu. Hal ini dilakukan untuk menghalangi mereka dari alasan apapun untuk melanjutkan agresi dan pengepungan mereka," kata dia, seperti dilansir AFP, Senin (19/11).
Keputusan gencatan sementara diambil setelah utusan khusus PBB untuk urusan Yaman, Martin Griffiths mengatakan akan mengunjungi Ibu Kota Sanaa untuk menyelesaikan pengaturan pembicaraan damai di Swedia pada pekan depan. Pemerintah Yaman dalam pengasingan juga menyatakan akan ikut dalam perundingan damai itu. 


Griffiths juga mengatakan pemerintah Arab Saudi dan pemberontak Houthi telah menunjukkan komitmen untuk perdamaian. Ia menyebut kedua pihak menjamin akan menghadiri perundingan meskipun tanggal belum ditetapkan.

Dirinya juga mengatakan para pemberontak harus siap untuk menghentikan seluruh operasi militer di seluruh lokasi. Hal ini juga merupakan bukti mendukung upaya PBB dan membuktikan niat baik.

Sejak September lalu, berbagai upaya untuk mengadakan negosiasi antara pemerintah dan kelompok Huthi gagal, ketika para pemberontak menolak terbang ke Swiss untuk melakukan negosiasi dengan PBB.
Pada Minggu (18/11) malam waktu setempat, Menteri Luar Negeri Huthi, Hisham Sharaf Abdallah bertemu dengan para pejabat PBB. Ia menyebut PBB akan mengambil solusi politik untuk menghentikan pertumpahan darah dan melindungi penduduk Yaman dari kehancuran.

Pada awal bulan ini, pertempuran di Yaman semakin meningkat ketika koalisi memperbarui serangan yang ditujukan untuk merebut Pelabuhan Hudaida, yang merupakan titik masuk untuk lebih dari 70 persen impor ke Yaman.

Pemberontak Huthi telah menguasai ibu kota Sanaa pada akhir 2014. Mereka telah menyerang Arab Saudi dengan ratusan rudal balistik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut hampir 10 ribu orang tewas di Yaman sejak adanya operasi militer koalisi dipimpin Saudi pada 2015. Namun, kelompok hak asasi manusia meyakini jumlah korban lebih tinggi lima kali lipat. Perang di Yaman juga memicu krisis kemanusiaan dan kelaparan terburuk di dunia. (rds/ayp)