Polling Warga Taiwan Soal China hingga LGBT Telah Dimulai

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 24/11/2018 10:46 WIB
Polling Warga Taiwan Soal China hingga LGBT Telah Dimulai Jutaan warga Taiwan memulai jajak pendapat atau japat pada Sabtu (24/11) yang menentukan kebijakan mulai dari hubungan China hingga hak kelompok LGBT. (Chris STOWERS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jutaan warga Taiwan menuju tempat jajak pendapat pada Sabtu (24/11) pagi untuk memutuskan serangkaian kebijakan politik hingga sosial, mulai dari hubungan dengan Beijing hingga hak-hak kelompok LGBT.

Pemungutan suara yang dilakukan secara luas mulai dari desa hingga kota tersebut merupakan 'ujian' jangka pendek-menengah terhadap Presiden Tsai Ing Wen setelah dirinya mendapatkan protes atas reformasi domestik dan kekhawatiran atas hubungan yang memburuk dengan China.

Jajak pendapat tersebut juga menampilkan 10 referendum, termasuk keputusan atas pro-kontra pernikahan sesama jenis dan opsi mengubah nama Taiwan dalam kompetisi olahraga internasional yang membuat China marah.


Referendum ini menjadi beban tambahan bagi Tsai dan partai petahana, Democratic Progressive Party (DPP) yang menghadapi desakan kuat dari kursi mayoritas.


Tsai telah memanfaatkan pemilihan lokal sebagai cara 'memberi tahu dunia' bahwa Taiwan tidak akan tunduk pada Beijing. Prinsip itu pula yang meningkatkan suhu dan tekanan militer juga diplomatik sejak dirinya menjabat pada 2016.

China selama ini memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayah mereka dan tersinggung ketika Tsai tidak akan mengakui negara pulau itu sebagai bagian dari "satu China" seperti pendahulunya, Ma Ying Jeou yang dikenal ramah dengan Beijing.

Tsai terpilih sebagai presiden pada pemilihan dua tahun lalu karena publik marah dengan partai presiden sebelumnya, KMT, yang "amat akrab" dengan Beijing dan mengecilkan identitas Taiwan kala kampanye.

Namun KMT menyebut japat atau polling yang diadakan kali ini adalah bukti tidak ada percaya diri dari Tsai. Partai tersebut juga berjanji untuk mempromosikan hubungan damai dengan China dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Taiwan.


Di sisi lain, kebijakan pensiun dan reformasi buruh dari Tsai cenderung tidak populer. Meskipun pendapatan negara bertumbuh, beberapa pemilih mengeluh belum merasakan manfaat berarti lantaran pendapatan masih stagnan sedangkan biaya hidup terus meningkat.

Sebagian masyarakat lainnya juga menyalahkan ketegangan di selat Taiwan-China sebagai penyebab menurunnya pendapatan mereka, termasuk kelompok-kelompok akar rumput yang secara tradisional memilih DPP.

Japat atau jajak pendapat di Taiwan ini dimulai pada pukul 8 pagi waktu setempat atau 7.00 WIB dan hasilnya belum bisa diketahui hingga Sabtu tengah malam. (end)