Netanyahu Janji Sering Keliling Jazirah Arab Cari Dukungan

CNN Indonesia | Senin, 26/11/2018 19:33 WIB
Netanyahu Janji Sering Keliling Jazirah Arab Cari Dukungan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan berencana lebih sering mengunjungi negara-negara Arab di masa depan. Hal itu dilakukan untuk mencari dukungan demi membendung perluasan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
"Kami berdua telah berdiskusi, bahwa perubahan besar tengah terjadi antara relasi negara Arab dengan Israel,"kataNetanyahu saat menerima lawatanPresidenChadIdrissDebydiTelAviv pada Minggu (26/11).
Netanyahu disebut tengah gencar-gencarnya mendekati negara Arab seperti Arab Saudi, Oman, Uni dan Emirat Arab, salah satunya guna membendung pengaruh Iran. Hal itu terlihat dari lawatan mendadak Netanyahu ke Oman untuk bertemu Sultan Qaboos di Muscat, pada akhir Oktober lalu.
Berdasarkan keterangan dari pemerintah Israel, Netanyahu menemui Sultan Qaboos ditemani dengan kepala Badan Intelijen Israel, Mossad.
Saat ini Israel hanya memiliki hubungan diplomatik dengan dua negara di kawasan teluk, yakni Yordania dan Mesir.
Selain Netanyahu, sejumlah menteri kabinetnya juga telah mengunjungi beberapa negara Arab dalam beberapa pekan terakhir guna memperkuat hubungan.
Media lokal Israel bahkan melaporkan Netanyahu juga tengah menjajaki rencana menjalin hubungan diplomatik dengan Bahrain.
Lawatan-lawatan itu pun memicu kekhawatiran Palestina terkait normalisasi relasi negara Arab dan Israel.
Seorang pejabat senior Palestina, Wasel Abu Yossef, pun mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap lawatan Deby ke Israel.
"Seluruh negara dan institusi seharusnya memboikot pemerintahan ekstremis Israel dan memaksimalkan pengucilan terhadap negara itu karena aktivitas pendudukan dan penjajahnnya di atas tanah Palestina," kata Youssef seperti dikutip Reuters.
Israel telah cukup banyak berinvestasi di wilayah Afrika. Pemerintahan Netanyahu menjalin hubungan diplomatik dengan 32 dari 54 negara di benua itu.
Meski begitu, sejumlah negara Afrika terus menjaga jarak dengan Israel setelah negara Zionis itu menduduki wilayah Palestina secara ilegal pasca-Perang Enam Hari pada 1967 lalu.
Sementara itu, Deby menuturkan kunjungannya ke Israel adalah lawatan bersejarah untuk relasi Chad-Israel.
"Lawatan ini bisa memfasilitasi halaman baru dalam hubungan kami (Chad-Israel)," papar Deby.

Meski begitu, dalam pertemuannya dengan Netanyahu, Deby tetap menegaskan bahwa konflik Israel-Palestina tidak bisa diabaikan dari relasi antara kedua negara.
"Tentu saja, pembaruan hubungan diplomatik antara Israel-Chad, yang sangat saya inginkan, bukan lah sesuatu yang dapat membuat masalah Palestina lenyap begitu saja," tutur Deby.
Menurut Deby, relasi tidak resmi antra Israel dan Chad telah berlangsung untuk waktu yang lama. Sumber menuturkan lawatannya ke Israel berfokus pada kerja sama keamanan di mana Israel disebut telah memasok senjata bagi tentara Chad guna memerangi pemberontak.



(rds/ayp)