Ukraina Anggap Penahanan Kapal oleh Rusia Bentuk Agresi Baru

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 15:22 WIB
Ukraina Anggap Penahanan Kapal oleh Rusia Bentuk Agresi Baru Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, menyebut Rusia melakukan agresi baru selepas Moskow menahan tiga kapalnya ketika melewati Laut Hitam, Minggu (25/11). (Reuters/Mykhailo Markiv/Ukrainian Presidential Press Service)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, menyebut Rusia melakukan agresi baru selepas Moskow menahan tiga kapal angkatan lautnya ketika melewati Laut Hitam pada Minggu (25/11).

"Setelah penyerangan terhadap kapal militer Ukraina, (Rusia) telah meluncurkan agresi fase baru," ucap Poroshenko dalam pidatonya yang disiarkan televisi nasional pada Senin (26/11) malam.

Poroshenko mengatakan insiden yang terjadi di Laut Azov dekat Semenanjung Krimea itu "menunjukkan arogansi dan keinginan terbuka" untuk berkonflik.
Menurutnya, perubahan situasi ini terjadi karena "Rusia sebelumnya menolak tudingan bahwa personel militernya terlibat dalam konflik Ukraina."


Penahanan tersebut bermula ketika dua kapal AL Ukraina berukuran kecil dilengkapi meriam yang mengawal sebuah kapal tunda melintas di Laut Hitam dekat Semenanjung Krimea.

Angkatan Laut Rusia lantas siaga dan memblokir perairan dengan menempatkan kapal tanker dan kapal penjaga pantai di perairan itu.
Rusia menyatakan kapal Ukraina berkeras melintasi perairan itu dan mengabaikan peringatan dari pihaknya.

Penjaga pantai Rusia melepaskan tembakan ke arah kapal Ukraina dan melukai sejumlah pelaut.

Namun, menurut Ukraina, Rusia menembaki kapal setelah mereka memutuskan untuk putar balik.

Bentrokan angkatan laut Rusia dan Ukraina akhir pekan kemarin membuat relasi kedua negara bertetangga itu kembali tegang selepas Moskow mencaplok Semenanjung Krimea dari Kiev empat tahun lalu.
Akibat insiden itu, Poroshenko menetapkan status darurat militer yang berlaku selama 30 hari ke depan setelah sebelumnya sempat mengajukan 60 hari.

Dia menganggap status darurat militer diperpendek guna menghindari tumpang tindih dengan masa kampanye pemilihan umum.

"Kami harus segera memperkuat pertahanan kami agar dapat bereaksi cepat jika terjadi invasi," tuturnya seperti dikutip AFP.

Sejumlah oposisi Poroshenko menuding status darurat militer diterapkan guna menunda pemilihan presiden yang diperkirakan berlangsung Maret mendatang. (rds/has)