George H.W Bush, 'Teman Lama' China di Gedung Putih

CNN, CNN Indonesia | Minggu, 02/12/2018 15:43 WIB
George H.W Bush, 'Teman Lama' China di Gedung Putih Mendiang George H.W Bush kerap disebut sebagai sahabat dan teman lama China di Gedung Putih. Semua bermula ketika ia diutus ke negara itu pada medio 1970-an. (AFP/Mandel Ngan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden China Xi Jinping menyampaikan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya mantan Presiden Amerika Serikat George H.W Bush pada Jumat malam (30/11) di usianya yang ke-94 tahun.

Dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di sela G20 di Argentina, Xi mengatakan bahwa Bush merupakan orang penting yang berkontribusi terhadap hubungan baik China dan AS.

Xi menyampaikan rasa duka cita untuk keluarga Bush, dan meminta Trump menyampaikannya.



Menilik ke belakang, Xi punya alasan menyebut mendiang Bush sebagai orang yang berjasa untuk hubungan dua negara yang kini sedang diliputi perang dagang.

Bush pertama kali menginjak Beijing ketika ia menjadi duta besar tak resmi AS di China pada medio 1970an. Pengalaman ini kemudian memengaruhi kebijakan luar negerinya saat menjabat sebagai Presiden AS ke-41.

Di Beijing, ia bersama istrinya Barbara kerap menelusuri jalan-jalan sempit di pusat kota dengan sepeda hingga dikenal sebagai "utusan bersepeda". Diberitakan CNN, Bush disebut memperlihatkan antusiasme terhadap kehidupan warga lokal lewat rutinitas bersepedanya itu.

Sebagai ketua utusan diplomatik untuk China saat AS pertama kali secara formal membuka perwakilan di China, Bush sempat bertemu dengan beberapa pemimpin ternama negara komunis itu, termasuk Mao Zedong dan Deng Xiaoping.

"Jelas Beijing melihatnya sebagai teman terbaik yang pernah dimiliki China di Gedung Putih," kata Jeffrey Engel, direktur Center for Presidential History dari Universitas Southern Methodist, AS, kepada CNN.

George H.W Bush, 'Teman Lama' China di Gedung PutihPeran Bush disebut membuat China tidak memveto AS terkait agresi ke Irak di Dewan Keamanan PBB. (Reuters/Terry Bochatey)
Di awal 1974, setelah Presiden Richard Nixon membuka hubungan dengan China pada 1972, Bush tiba di Beijing ketika ia berusia 50 tahun, sebagai utusan kedua AS untuk China.

"Ia berpikir masa depan berada di Asia dan berada di China," kata Engel, soal mengapa Bush memutuskan menerima tugasnya di Beijing.

Bush ke Beijing dengan misi bertemu dengan "generasi masa depan pemimpin China", menurut diarinya. Namun meski ia sudah bertemu dengan Mao sebanyak dua kali, upayanya tetap saja kerap "dihalangi".

"Mereka sopan, mereka kuat, namun mereka selalu bicara soal prinsip. Dan ketika mereka tak mau memberi jawaban, mereka hanya akan diam dan duduk di sana. Itu adalah hal yang paling membuat frustrasi," tulis Bush ketika ia tinggal di Beijing.

Ketika ia akhirnya meninggalkan China pada 1975 dan menjabat sebagai direktur badan intelijen CIA di bawah Presiden Gerard Ford, ia sudah lebih memahami pemerintahan China.

"Dia memang punya ikatan dengan negara itu. Saya pikir (setelah dia pergi) dia merasakan rasa kustodian tertentu terhadap China," kata Orville Schell, direktur Asia's Society Center.


Ketika akhirnya Bush menjabat sebagai presiden pada 1988, hubungan kedua negara sedang berada di posisi yang sangat baik, dengan meningkatnya kerja sama ekonomi.

Namun situasi itu tak bertahan lama, karena sekitar setahun kemudian, Partai Komunis China memerintahkan militer membersihkan demonstrasi pro-demokrasi dari pusat Beijing, berujung pada kematian ratusan bahkan ribuan orang.

"Bush adalah presiden di momen tersulit AS-China sejak Perang Korea," kata Engel, yang bekerja bersama Bush mempublikasikan buku hariannya ketika di China.

Insiden di Beijing pada 4 Juni 1989 itu mendapat perhatian seluruh dunia. Bush kemudian memberlakukan sanksi terhadap China, termasuk menunda penjualan senjata dan kerja sama militer.

Tapi di balik itu, Bush sebenarnya membuat langkah kontroversial dengan menghubungi pemimpin China saat itu, Deng Xiaoping, untuk memuluskan hubungan setelah insiden itu.

"Sejarah panjang saya bersama Deng dan para pemimpin lainnya memungkinkan kami untuk mengatasi krisis tanpa merusak hubungan China-Amerika," tulis Bush dalam kata pengantar untuk buku harian China-nya pada 2007.


Dokumen Departemen Luar Negeri AS belakangan mengungkap bagaimana Bush berharap agar bisa mengatur peristiwa itu tidak merusak hubungan kedua negara karena menganggap China terlalu penting untuk diisolasi sepenuhnya.

"Deng Xiaoping tidak pernah lupa bahwa setelah 1989, ketika keberuntungan Cina benar-benar turun dan Deng merasa terganggu dengan luka yang ia sebabkan sendiri, Bush datang sebagai penyelamat," kata Schell.

Beberapa tahun kemudian, ketika Bush ingin membangun konsensus di Dewan Keamanan PBB pada 1991 untuk melawan Irak selama Perang Teluk Pertama, China tidak menggunakan hak veto terhadap AS.

Ketika Bush mengunjungi China pada 2006, Engel yang ikut bersamanya mengingat Bush disambut dengan luar biasa, sebagai seorang teman lama.

"Ia tidak disambut sebagai mantan presiden, tapi sebagai Presiden. Tak ada negara lain yang menyambutnya seperti ketika ia disambut di China," kata Engel.

Dalam buku hariannya, Bush sendiri mengaku menyukai orang China.

"Saya mencintai orang China. Salah satu mimpi saya adalah dua kekuatan raksasa ini akan terus bekerja menuju kemitraan dan persahabatan yang akan membawa kedamaian dan kemakmuran bagi semua orang," tulis Bush di buku hariannya. (stu)