Pemberontak Houthi dan Pemerintah Yaman Berunding di Swedia

CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 21:48 WIB
Pemberontak Houthi dan Pemerintah Yaman Berunding di Swedia Pemberontak Houthi di Yaman. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perwakilan pemberontak Houthi di Yaman dikabarkan terbang menuju Swedia untuk perundingan damai dengan pemerintah. Hal itu dilakukan untuk mengakhiri perang yang terjadi dan merenggut nyawa ribuan orang akibat serangan militer, kelaparan, dan wabah penyakit.

Dilansir AFP, Selasa (4/12), rombongan Houthi terbang ke Swedia didampingi oleh Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Martin Griffiths. Namun, sebelumnya mereka mendapat kepastian pemerintah Yaman berjanji memulangkan sejumlah tahanan perang dan mengirim 50 pemberontak yang terluka untuk diobati di Oman.

"Kami tidak akan menyiakan kesempatan untuk perundingan demi memulihkan perdamaian dan menghentikan perang," kata Juru Bicara Houthi Mohammed Abdelsalam.
Meski demikian, Abdelsalam meminta seluruh pasukan pemberontak tetap waspada terhadap segala serangan dari pemerintah Yaman dan pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi.


Meski belum ada kepastian, Abdelsalam menyatakan kemungkinan mereka akan mulai perundingan pada Kamis mendatang. Diharapkan negosiasi kali ini berhasil setelah Griffiths meyakinkan kedua belah pihak semuanya akan berjalan lancar.

Sebab, kedua belah pihak yang bertikai gagal menggelar perundingan damai pada September lalu di Swiss.

Pejabat pemerintah Yaman, Hadi Haig menyatakan jika perundingan damai tercapai maka mereka akan membebaskan sekitar 1,500 hingga 2000 tahanan perang. Pemberontak Houthi juga berjanji akan melakukan hal yang sama, termasuk membebaskan mantan Menteri Pertahanan Mahmoud al-Subaihi dan adik Presiden Abedrabbo Mansour Hadi sekaligus mantan pejabat intelijen senior, Nasser.

Kabar perundingan itu juga dibenarkan oleh petinggi Houthi, Abdel Kader al-Murtadha. Dia berharap perjanjian ini bisa diterapkan tanpa problem.
Sejak perang pecah pada 2015 lalu, hampir 10 ribu orang tewas.

Perang ini pecah ketika Houthi mengudeta istana kepresidenan di Sanaa, hingga Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi terpaksa kabur.

Atas permintaan Hadi, koalisi Saudi menggempur Houthi di Yaman dengan serangan udara yang tak hanya menewaskan pemberontak, tapi juga warga sipil. (ayp/ayp)