AS Ultimatum Rusia Supaya Lucuti Rudal Canggih

CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 02:23 WIB
AS Ultimatum Rusia Supaya Lucuti Rudal Canggih Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo. (REUTERS/Brendan McDermid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mengancam akan menarik diri dari traktat Perang Dingin dalam 60 hari, jika Rusia tidak melucuti senjata rudal barunya yang dianggap melanggar kesepakatan.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Washington akan keluar dari Perjanjian Senjata Rudal Nuklir Jarak Menengah (INF) yang diteken pada 1987, jika Rusia tidak melucuti sistem senjata baru yang dianggap memicu perlombaan senjata tersebut.

"AS hari ini menyatakan bahwa Rusia melanggar materi perjanjian traktat INF dan kami akan menangguhkan kewajiban kami sebagai respons dalam 60 hari ke depan, kecuali Rusia kembali mematuhi secara penuh traktat itu dan bisa diverifikasi," ucap Pompeo usai bertemu dengan Menlu negara anggota NATO di Belgia, Selasa (4/12) kemarin.


Pada Oktober lalu, Presiden Donald Trump juga telah menyatakan Amerika akan keluar dari perjanjian INF dan mulai membangun kembali persenjataan nuklir.
AS dan NATO menuding sistem senjata 9M729 yang dikenal dengan sebutan SSC-8 milik Rusia melanggar perjanjian INF. Sebab, senjata tersebut memiliki kemampuan meluncur jarak menengah sekitar 500 hingga 5.500 kilometer.

Rudal jelajah tersebut memiliki kemampuan hulu ledak nuklir yang mudah dimobilisasi dan sulit dideteksi. NATO mengklaim peluru kendali itu mampu menghantam kota-kota di Eropa tanpa peringatan sehingga mengubah tatanan keamanan kawasan tersebut secara dramatis.

INF merupakan traktat bilateral antara AS dan Uni Soviet yang dibentuk guna membatasi pengembangan dan penggunaan senjata rudal dan nuklir jarak menengah di masa Perang Dingin dulu.

Pompeo mengatakan tidak ada alasan bagi AS untuk memberikan peluang musuh mengembangkan kemampuan militer.

Jika Rusia tak mematuhi keinginan AS dalam 60 hari, Gedung Putih akan resmi memulai proses menarik diri dari perjanjian INF dalam 60 hari ke depan.
"Hingga saat itu, AS tidak akan menguji, memproduksi, atau menyebarkan sistem senjata apa pun yang akan melanggar perjanjian itu," ujar Pompeo seperti dikutip AFP.

AS mendapat dukungan penuh dari seluruh anggota negara NATO terkait ultimatum ini. Melalui pernyataan bersama, negara NATO mengatakan nasib INF saat ini berada di tangan Rusia.

"Sekarang terserah Rusia untuk melestarikan perjanjian INF. Sekutu telah menekankan bahwa situasi AS dan pihak lain sepenuhnya mematuhi perjanjian INF, sementara Rusia tidak, tidak berkelanjutan," bunyi pernyataan NATO.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan meski Rusia pada akhirnya mau mematuhi INF, "kita harus tetap mulai mempersiapkan sebuah dunia tanpa perjanjian pemusnahan senjata."

"Ini (INF) benar-benar perjanjian pembatasan kontrol senajata yang terbaik dan oleh karena itu benar-benar sebuah kemunduran besar jika perjanjian ini benar-benar berakhir," ujar Stoltenberg.
"Saya menyesal bahwa kita sekarang kemungkinan besar akan melihat akhir dari prjanjian INF, tetapi pada saat yang sama kita tidak memiliki alternatif lain selain bereaksi dengan cara yang kita lakukan." (rds/ayp)