Ukraina Minta Sekutunya Perberat Sanksi untuk Rusia

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 19:12 WIB
Ukraina Minta Sekutunya Perberat Sanksi untuk Rusia Ilustrasi kapal perang Ukraina di Pelabuhan Odessa, Laut Hitam. (Reuters/Yevgeny Volokin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ukraina mendesak sejumlah sekutunya di Blok Barat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memperberat sanksi bagi Rusia. Permintaan itu disampaikan karena Negeri Beruang Merah itu sampai saat ini belum memulangkan tiga kapal dan sejumlah pelaut Ukraina, yang ditahan selepas insiden di Selat Kirch, Laut Azov.

Desakan itu diutarakan Ukraina dalam pertemuan darurat menteri luar negeri negara anggota Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE).

"Ini adalah masalah mendesak untuk bisa segera menanggapi dan mengonsolidasikan respons internasional terkait agresi ini. Deklarasi saja tidak cukup, harus ada aksi," ucap Menteri Luar Negeri Ukraina Pavlo Klimkin kepada para menlu negara OSCE di Milan, Italiam, seperti dilansir Reuters pada Jumat (7/12).


"Kita harus menaikkan konsekuensi untuk Rusia dengan sanksi yang komperhensif dan disesuaikan. Tidak bisa hanya bisnis seperti biasa."
Dalam kesempatan itu, para menteri negara Barat juga menuntut Rusia segera membebaskan para pelaut Ukraina yang masih ditahan akibat insiden itu.

"Agresi Rusia adalah sebuah bentuk kesalahan perhitungan," kata Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Eropa dan Eurasia, Wess Mitchell.

"Insiden ini memperkuat tekad negara Barat untuk mempertahankan sanksi terhadap Rusia. Sudah waktunya bagi Rusia untuk memikirkan kembali pendekatannya ini."

Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, juga menyuarakan dukungan terhadap Ukraina.

"Pencaplokan ilegal Rusia atas Krimea, keterlibatan langsungnya dalam konflik di Donbass, dan sekarang tindakan ilegalnya menargetkan para pelaut serta kapal Ukraina tidak dapat diterima masyarakat internasional," kata Freeland.

Menlu Rusia Sergei Lavrov turut hadir dalam rapat OSCE itu. Namun, Lavrov hanya bergeming setelah mendengar kecaman dari negara-negara Barat tersebut.

Dia malah menyalahkan Ukraina dan sekutunya yang memicu ketegangan dengan Rusia.

"Berjuang untuk dominasi, sekelompok kecil negara menggunakan pemerasan, tekanan, dan ancaman," kata Lavrov dalam pertemuan itu.
"Kiev (bebas) dari sanksi apa pun, terlindungi oleh sponsor negara Barat, yang membenarkan semua tindakan keterlaluannya."

Hubungan Ukraina dan Rusia kembali memanas setelah kapal kedua negara berseteru di Selat Kerch pada 25 November lalu.

Kapal penjaga pantai Rusia sempat melepaskan tembakan ke arah kapal militer Ukraina hingga melukai sejumlah pelaut. Rusia menyatakan manuver itu dilakukan lantaran kapal Ukraina disebut berkeras melintasi perairan itu dan mengabaikan peringatan.

Hanya saja menurut Ukraina, Rusia menembaki kapal-kapalnya setelah mereka memutuskan untuk memutar balik keluar dari perairan itu.

Ukraina meminta bantuan Barat memperberat sanksi sebagai bentuk hukuman Rusia terkait agresinya tersebut.

Sejak 2014, Amerika Serikat dan Uni Eropa telah memberlakukan sanksi bagi Rusia. Sanksi itu dijatuhkan Barat menyusul pencaplokan Semenanjung Krimea oleh Rusia.

Sejak itu, bentrokan terus terjadi antara pasukan Ukraina dan separatis yang didukung Rusia di wilayah Donbass, sebelah timur Ukraina. Bentrokan itu hingga kini telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang.

Pertempuran berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata pada 2015 lalu, meski bentrokan kecil masih sering terjadi.
Konfrontasi kapal angkatan laut kedua negara pada Oktober lalu pun dianggap semakin memperkeruh perselisihan antara Ukraina-Rusia dan Rusia-Blok Barat. (rds/ayp)