"Kali ini, memang ada perkembangan. Senyum saya semakin besar ketika dia berbicara," ujar Erwan, salah satu "juru bicara" gerakan rompi kuning dari Rennes.
Namun, ia menganggap rangkaian solusi yang ditawarkan Macron melalui pidato kenegaraan pada Senin (10/12) itu belum cukup untuk mengakhiri demonstrasi mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Macron juga akan menghapus peningkatan pajak bagi para pensiunan di negaranya.
"Semua orang menggerutu saat mendengar pengumumannya dan reaksi keseluruhan pertama kami adalah, 'Dia pikir kami bodoh,'" katanya kepada AFP.
Sementara itu, sejumlah politikus oposisi mengapresiasi langkah Macron ini, tapi juga mengkritik sikap sang presiden.
"Ia enggan mengakui bahwa model ekonomi yang ia gagas lah yang seharusnya dipertanyakan dari awal," tuturnya.
Di lain sisi, Jean-Luc Melenchon sebagai pemimpin partai oposisi sayap kanan, Unbowed France, mengatakan bahwa Macron keliru jika berpikir "pendistribusian uang" akan menenangkan "pemberontakan."
Demonstrasi gerakan rompi kuning pada akhir pekan lalu memang disebut-sebut sebagai kericuhan paling dahsyat di Prancis selama beberapa dekade belakangan, di mana 10 ribu orang turun ke jalan, berhadapan dengan sekitar 8.000 personel kepolisian yang menangkap 1.700 demonstran.
Aksi protes yang awalnya mengkritik kenaikan pajak bahan bakar dan peningkatan biaya hidup ini sudah dimulai sejak 17 November dan dengan cepat menyebar berkat media sosial.
Ketika kericuhan pertama kali pecah pada dua pekan lalu, pemerintah Prancis sampai-sampai sempat mempertimbangkan pendeklarasian situasi darurat.
Tonton juga video: Redam Rompi Kuning, Macron Tingkatkan Upah Minimum
[Gambas:Video CNN] (has)