PBB Sebut 250 Ribu Pengungsi Bisa Kembali ke Suriah 2019

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 01:16 WIB
PBB Sebut 250 Ribu Pengungsi Bisa Kembali ke Suriah 2019 Para pengungsi Suriah yang hendak menuju Yunani. (REUTERS/Alkis Konstantinidis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 250 ribu dari jutaan pengungsi Suriah dapat kembali ke rumah mereka pada 2019. Dilansir dari AFP, PBB mengungkapkan walaupun bisa kembali ke rumah masing-masing, para pengungsi tetap memiliki rintangan besar.

"Kami meramalkan hingga 250 ribu warga Suriah kembali pada 2019," kata Amin Awad, Pemimpin Operasi Badan PBB di Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Angka itu bisa naik dan turun sesuai dengan kecepatan kita menghilangkan rintangan untuk kembali," tegasnya.
Berdasarkan data UNHCR terdapat 5,6 juta pengungsi Suriah yang tinggal di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Lembaga tersebut mengatakan bahwa 117 ribu pengungsi telah kembali ke Suriah sejak 2015, termasuk 37 ribu tahun ini.


"Ini adalah hasil terorganisir, sepenuhnya sukarela, dan tentu saja dengan keterlibatan UNHCR," kata Awad.

Meskipun konflik Suriah mereda, konflik ini telah menewaskan lebih dari 360 ribu orang sejak 2011. Awad mengatakan bahwa orang-orang yang kembali menghadapi banyak rintangan.

Salah satu rintangan adalah masalah yang terkait dengan wajib militer dan pertanyaan di sekitar mereka ketika mereka meninggalkan Suriah.

Dan ada rintangan yang terkait dengan keamanan fisik bahkan di tempat-tempat di mana pertempuran telah berhenti.

UNHCR bekerja dengan pemerintah Suriah untuk mencoba memperbaiki kondisi bagi mereka yang ingin kembali, kata Awad.

Badan pengungsi PBB, bersama dengan agensi pembangunan, sementara itu meluncurkan permohonan senilai US$5,5 miliar untuk mendukung upaya nasional pada 2019 dan 2020 di Turki, Libanon, Yordania, Mesir dan Irak untuk terus menjadi tuan rumah jutaan orang Suriah yang masih belum siap atau dapat kembali rumah.

"Sangat penting bahwa masyarakat internasional terus mengakui penderitaan para pengungsi Suriah dan memberikan dukungan penting kepada pemerintah tuan rumah untuk membantu memikul beban besar ini," kata Awad. (age/age)