Jejak Konflik Etnis Uighur dan Pemerintah China

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 20:30 WIB
Jejak Konflik Etnis Uighur dan Pemerintah China Foto: REUTERS/Thomas Peter
Jakarta, CNN Indonesia -- Jauh di sebelah barat laut Negeri Tirai Bambu terdengar kabar tentang etnis Uighur yang mengalami persekusi oleh pemerintah China. Sejarah pertikaian mereka dengan rezim sudah berlangsung lama, bahkan ketika China masih berupa kekaisaran.

Seperti dirangkum CNNIndonesia.com pada Selasa (18/12) dari berbagai sumber, etnis Uighur yang beragama Islam dan tempat bermukim mereka di wilayah Xinjiang membetot perhatian dunia akhir-akhir ini. Penyebabnya adalah kabar sikap represif pemerintah komunis China yang menangkap sekitar 1 juta warga muslim ke dalam kamp khusus yang lebih mirip penjara.

Di wilayah Xinjiang bermukim sejumlah suku asli yakni Uighur, Khazak, Hui, Tajik, Uzbek dan Tartar yang seluruhnya memeluk Islam. Sedangkan etnis Han, Khalkhas, Mongol, Xibe, Manchu, Rusia, dan Daur memeluk keyakinan lain atau bahkan tidak sama sekali.


Islam menyebar di wilayah itu melalui jalur perdagangan dan penaklukan, atau dengan kata lain perang.
Pada masa lampau, Xinjiang berada di bawah kepemimpinan penguasa yang berganti-ganti. Mereka pernah dipimpin oleh Kekaisaran Uighur Khaganate pada sekitar abad ke-8 hingga 9 Masehi. Namun, istilah orang Uighur belum lazim digunakan dan mereka kerap dijuluki 'Orang-orang Turkic'. Pusat kotanya disebut Urumqi.

Kemudian, Panglima Perang Uzbek, Yakub Beg memimpin rakyat setempat melawan Dinasti Qing, tetapi berhasil ditaklukkan. Pada 1874 wilayah itu diambil alih dan namanya diubah menjadi Xinjiang, yang artinya 'Batas Baru'.

Pada 1933 sampai 1934 meletus pemberontakan melawan pemerintah China. Mereka dibantu oleh Uni Soviet, yang bertujuan mengambil alih wilayah itu untuk bersatu dengan mereka. Pergolakan itu melahirkan Republik Islam Turkestan Timur yang hanya berumur satu tahun. Mereka kemudian habis digilas pasukan Hui dari Divisi 36 Tentara Merah China, yang tunduk kepada Mao Tse Tung. Mereka menggunakan etnis Hui yang juga Muslim untuk melawan kelompok separatis. Sisa-sisa pemberontak kabur ke wilayah pegunungan.

Pemberontakan kembali terjadi pada 1940-an, yang berhasil membangkitkan Republik Turkestan Timur (1944-1949). Lagi-lagi pergolakan ini dibantu oleh Uni Soviet yang ketika itu dipimpin mendiang Joseph Stalin.
Jalan Panjang Konflik Etnis Uighur dan Pemerintah ChinaEtnis Uighur di Kota Kashgar, Provinsi Xinjiang, China. (REUTERS/Thomas Peter)
Ketika Partai Komunis China menang dalam perang sipil dan menumbangkan Dinasti Qing pada 1949, wilayah Xinjiang kembali diambil alih. Namun, para pentolan pemberontak menolak istilah Uighur untuk merujuk etnis mereka. Mereka lebih suka dianggap sebagai suku Turkic. Mereka juga menolak disamakan dengan etnis Hui, meski sama-sama memeluk Islam.

Hal itu bisa dimengerti karena perawakan etnis Uighur berbeda dari Han atau Hui. Paras dan perawakan mereka lebih condong ke arah Eurasia. Sebagian ada yang terlihat sipit, sedangkan lainnya mirip orang Eropa.

Mao Tse Tung lantas menetapkan status kawasan itu sebagai kawasan otonomi. Namun, ternyata mereka perlahan-lahan mengirim etnis Han ke wilayah itu dan kemudian beranak pinak hingga jumlahnya dua kali lipat dari etnis Uighur.

Etnis Uighur sempat bisa bernapas sedikit lega ketika masa kepemimpinan Deng Xiaoping pada akhir Perang Dingin. Pemerintah memberi mereka keleluasaan untuk beribadah dan mengaktualisasikan diri serta merawat budaya. Lagi pula ketika itu Uni Soviet sudah berantakan dan China tidak khawatir penduduk setempat akan kembali bergolak.
Sayangnya 'bulan madu' itu tak berlangsung lama setelah kelompok radikal Islam bangkit, dipelopori oleh Al Qaidah. China kembali bersikap keras terhadap etnis Uighur karena dianggap rentan terpapar radikalisme. Sebab, sejumlah kelompok perwakilan etnis Uighur dianggap tidak sejalan dengan pemerintah China.

Organisasi yang menjadi target China adalah Kongres Uighur Dunia (WUC) dan Gerakan Kemerdekaan Turkestan Timur (ETIM). Yang terakhir bahkan dianggap sebagai kelompok teroris oleh China.

Pemerintah China juga dikabarkan memberi perlakuan berbeda terhadap etnis Uighur, ketimbang Hui yang sama-sama Muslim. Suku Hui dibebaskan berpuasa saat Ramadan, bebas berhaji, beribadah secara berjemaah dan membangun masjid. Sedangkan bagi orang Uighur justru sebaliknya.

Dengan gelombang kelompok radikal seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang dikhawatirkan tersebar di kalangan Uighur, pemerintah China wajar jika merasa cemas. Meski sampai saat ini belum ada data pasti berapa jumlah etnis Uighur yang bergabung dengan ISIS.
Alasan itulah yang digunakan pemerintah China membangun kamp khusus untuk etnis Uighur. Mereka berdalih mendidik kembali suku Uighur supaya tidak bergolak di masa mendatang. (ayp/ayp)