China Kembali Tahan Warga Negara Kanada

CNN Indonesia | Rabu, 19/12/2018 18:22 WIB
China Kembali Tahan Warga Negara Kanada Aparat keamanan China kembali menahan seorang warga negara Kanada, diduga buntut kisruh penangkapan bow Huawei, Meng Wanzhou. (Istockphoto/BrianAJackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aparat keamanan China kembali menahan seorang warga negara Kanada, seperti dilaporkan oleh surat kabar National Post Kanada, Rabu (19/12).

Surat kabar tersebut tidak menyebut identitas warga Kanada yang ditahan, tetapi salah satu sumber mengungkapkan dia bukan diplomat maupun pengusaha.

Ini merupakan kali ketiga China menahan warga Kanada setelah menangkap mantan diplomat, Michael Kovrig, dan pengusaha, Michael Spavor.
Kovrig dan Spavor ditahan aparat China setelah polisi Kanada menangkap Direktur Keuangan Huawei, Meng Wanzhou. Kasus tersebut telah membuat Beijing marah dan mengguncang hubungan Kanada dengan China, yang juga terlibat dalam perang dagang dengan Amerika Serikat.


Mengutip Reuters, juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying, mengatakan pada sebuah taklimat harian di Beijing ia tidak mengetahui laporan tersebut.

Kantor Urusan Global Kanada mengatakan kepada National Post bahwa mereka mengetahui adanya penahanan tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut dan tidak menyarankan hubungan penangkapan dengan kasus Meng.

Pemerintah Kanada juga tidak mengatakan secara eksplisit bahwa penahanan Kovrig dan Spavor berhubungan dengan penangkapan Meng. China telah berulang kali meminta Kanada untuk memperbaiki kesalahannya dan melepaskan Meng atau bersiap menghadapi konsekuensi yang tak ditentukan.

Hal tersebut tentu memicu kecurigaan terhadap serentetan penangkapan yang dilakukan oleh China terhadap warga Kanada.

Perkara hal ini, Kedutaan Kanada di Beijing belum memberikan komentar.
Meng ditangkap oleh aparat keamanan Kanada pada 1 Desember lalu atas tudingan dari Jaksa Penuntut AS terkait sanksi AS terhadap Iran. Ia dituntut karena berbisnis dengan salah satu perusahaan yang beroperasi di Iran.

Meng kemudian dibebaskan dengan jaminan sebesar US$7,5 juta (sekitar Rp108,6 miliar), tetapi penyidikan kasusnya masih berjalan. (fey/ayp)