Demo Anti Perempuan Masuk Kuil, Negara Bagian India Lumpuh

CNN Indonesia | Jumat, 04/01/2019 10:14 WIB
Demo Anti Perempuan Masuk Kuil, Negara Bagian India Lumpuh Ilustrasi kelompok nasionalis India berunjuk rasa. (REUTERS/Sivaram V)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pro kontra atas ulah dua perempuan India yang mengabaikan larangan dan masuk ke tempat ibadah umat Hindu yang disucikan, Kuil Sabarimala, di Negara Bagian Kerala meluas. Unjuk rasa besar-besaran digelar oleh kelompok nasionalis dan simpatisan Partai Bharatiya Janata (BJP) sejak Kamis (3/1) kemarin melumpuhkan kegiatan di wilayah itu.

Sejumlah kawan bisnis dan pusat perdagangan di Kerala tutup, karena menuruti imbauan para pengunjuk rasa. Transportasi seperti bus dan taksi juga tidak beroperasi. Sebagian sopir mengaku ngeri jika nekat mencari penumpang karena bisa menjadi sasaran serangan.

"Sejumlah pengunjuk rasa meledakkan bom rakitan di luar kantor polisi di Ibu Kota Thiruvananthapuram," kata kepolisian setempat, seperti dilansir Reuters, Jumat (4/1).
Sekitar 400 pengunjuk rasa, termasuk perempuan, berjalan kaki menuju pusat bisnis Kochi di Kerala. Mereka lantas melakukan aksi unjuk rasa dengan duduk di tengah jalan sembari meneriakkan slogan dan mengibarkan bendera.


Demonstrasi itu direstui sejumlah petinggi BJP dan organisasi masyarakat Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), yang merupakan kelompok nasionalis Hindu. Mereka menolak keputusan pemerintah setempat yang dikuasai faksi sayap kiri yang membolehkan perempuan masuk dan berdoa di Kuil Sabarimala. Hal itu dianggap melanggar larangan yang sudah diterapkan selama bertahun-tahun.

Menurut Kepala Menteri Negara Bagian Kerala, Pinarayi Vijayan yang berasal dari Partai Komunis India-Marxist (CPIM) hal itu dipolitisasi oleh BJP. Dia juga menganggap partai itu bertanggung jawab atas ketegangan yang terjadi.

"Kedua perempuan itu meminta bantuan polisi untuk memasuki kuil, dan kami membantu karena merupakan tugas pemerintah. Kami memenuhi tanggung jawab yang diberikan undang-undang," kata Vijayan.

Menurut Vijayan, karena dibutakan amarah para pengunjuk rasa menjadikan perempuan sebagai sasaran. Pada Rabu lalu, seorang opsir polisi perempuan dikabarkan dilecehkan oleh lima pengunjuk rasa pro pelarangan. Lantas seorang wartawati yang meliput unjuk rasa juga diserang demonstran.

Sedangkan di wilayah distrik selatan Kerala, seorang pengunjuk rasa dilempari batu oleh kelompok penentang pelarangan hingga tewas. Di beberapa daerah sejumlah bus kota menjadi sasaran perusakan yang dilakukan pengunjuk rasa.

Hingga saat ini kepolisian menyatakan mereka sudah menangkap 700 orang yang terlibat kericuhan, perusakan dan penyerangan dalam unjuk rasa itu.
Meski demikian Kepala Kepolisian Kochi, Inspektur Jenderal Vijay Sakhare mengklaim demonstrasi masih terkendali dan relatif damai. Namun, mereka menyatakan sudah mempersiapkan persenjataan dan polisi anti huru-hara jika keadaan memburuk.

Dua perempuan yang berkeras berdoa di Kuil Sabarimala adalah Bindu Ammini (42) dan Kanaka Durga (44). Aksi keduanya menjadi pemicu unjuk rasa besar-besaran di Kerala.

Mereka melakukan hal itu setelah Mahkamah Agung India mencabut larangan bagi perempuan di usia menstruasi untuk memasuki Kuil Sabarimala. Namun, Perdana Menteri Narendra Modi yang bernaung di bawah BJP mendukung pelarangan perempuan masuk ke dalam kuil, sesuai dengan tradisi selama ini.

Keduanya sempat membujuk kepolisian selama sepekan, setelah gagal menuju masuk ke kuil itu pada 24 Desember 2018. Polisi kemudian sepakat membawa keduanya dengan taktik menggunakan ambulans.
Ambulans memang disiagakan untuk mengantisipasi umat Hindu yang sudah uzur jika kelelahan saat menempuh perjalanan menanjak menuju kuil. Setelah selesai berdoa, mereka kemudian keluar dengan berbaur bersama jemaat lain ditemani empat polisi berpakaian bebas. (ayp/ayp)