Ditekan Barat, Maduro Pamer Alutsista Venezuela Buatan Rusia

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 11:33 WIB
Di tengah tekanan negara Barat untuk lengser, Nicolas Maduro unjuk kekuatan militer dengan memamerkan koleksi alutsista Venezuela produksi Rusia. Di tengah tekanan negara Barat untuk lengser, Nicolas Maduro unjuk kekuatan militer dengan memamerkan koleksi alutsista Venezuela produksi Rusia. (Miraflores Palace/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah tekanan negara Barat untuk lengser, Presiden Nicolas Maduro justru unjuk kekuatan militer Venezuela dengan memamerkan koleksi alat utama sistem senjata produksi Rusia.

Didampingi Menteri Pertahanan, Vladimir Padrino, Maduro memantau langsung ketika satu pleton tentara melontarkan granat berpeluncur roket dan menembakkan senjata mesin anti-pesawat.

Sementara satu pleton menembaki target di lereng bukit, artileri buatan Rusia menembus kepulan asap di Pangkalan Militer Paramacay.
Dengan pamer alutsista ini, Maduro ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia merengkuh dukungan dari pasukan militer Venezuela yang siap membela negaranya.


"Tak ada yang menghormati yang lemah, pengecut, pembelot. Di dunia ini, yang dihormati adalah yang berani dan memiliki kekuatan," ujar Maduro sebagaimana dikutip Reuters.

"Tak ada yang boleh memikirkan untuk melangkah di tanah suci ini. Venezuela ingin perdamaian. Untuk menjamin perdamaian, kita harus bersiap."
Ia pun mengatakan bahwa militer akan menggelar latihan militer besar-besaran pada 10-15 Februari mendatang. Menurut Maduro, latihan ini adalah "yang terpenting dalam sejarah Venezuela."

Dalam pernyataan tersebut, Maduro berulang kali menyebut "pembelot", merujuk pada 27 tentara yang menyatakan membelot pada pekan lalu.

Melalui sebuah video, para tentara itu meminta warga mendukung mereka dengan menggelar demonstrasi besar-besaran. Rakyat pun turun ke jalan, didukung oleh oposisi yang direstui Amerika Serikat.

[Gambas:Video CNN]

Saat demonstrasi kian panas, Juan Guaido selaku pemimpin Majelis Nasional, badan parlemen yang dipilih langsung oleh rakyat, memproklamasikan diri sebagai presiden interim Venezuela.

Kepemimpinan Guaido didukung oleh sejumlah negara Barat dan Amerika Latin, mulai dari AS, Kanada, Brasil, Chile, hingga Australia. Namun, para sekutu dekat Venezuela, seperti Rusia, Turki, dan China mendukung kepemimpinan Maduro.

Melihat kekacauan ini, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, pun meminta Venezuela menggelar dialog internal untuk menghindari krisis politik lebih jauh. (has/has)