Kemarau Ekstrem, Januari Jadi Bulan Terpanas di Australia

CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 14:53 WIB
Kemarau Ekstrem, Januari Jadi Bulan Terpanas di Australia Ilustrasi warga saat menghadapi gelombang panas. (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suhu di Australia pada Januari mencapai rekor tertinggi, menyusul gelombang panas dan kemarau yang terus berlangsung. Kondisi itu turut memicu kebakaran hutan dan kematian ikan secara massal.

Badan Meteorologi Australia menyatakan suhu rata-rata di seluruh Australia lebih dari 30 derajat Celcius untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Suhu terpanas dialami wilayah Australia bagian selatan yang mencapai 49,5 derajat Celcius pada 24 Januari lalu.
"Kami melihat kondisi gelombang panas mempengaruhi sebagian besar negara selama sebulan dengan durasi musim panas dan suhu harian yang memecahkan rekor," ucap pakar iklim senior Badan Meteorologi Australia, Andrew Watkins, pada Jumat (1/2).


Watkins mengatakan penyebab utama suhu panas yang ekstrem adalah tekanan tinggi yang terus-menerus terjadi di Laut Tasman, selatan Australia. Akibat udara yang lebih dingin akan berembus ke negara itu terhalang.

Selain itu, Watkins juga tak menampik dampak pemanasan global ikut memicu cuaca ekstrem yang tidak biasa ini. Dia menuturkan perubahan iklim telah menyebabkan temperatur Australia meningkat satu derajat Celcius dalam seratus tahun terakhir.
Dikutip AFP, Watkins menuturkan hampir seluruh negara bagian Australia saat ini memiliki curah hujan di bawah rata-rata. Hal itu, katanya, memperburuk musim kemarau yang bahkan sudah berkepanjangan di beberapa wilayah timur negara tersebut.

Otoritas berwenang memaparkan cuaca ekstrem ini telah menyebabkan kematian lebih dari satu juta ikan di Sungai Murray Darling. Sungai itu mengalir di lima negara bagian di timur Australia.
Sementara itu, gelombang panas juga memicu kebakaran hutan di tenggara hingga ke timur laut Australia. (rds/ayp)