Krisis Listrik Ancam Kegiatan Rumah Sakit di Jalur Gaza

CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 22:58 WIB
Krisis Listrik Ancam Kegiatan Rumah Sakit di Jalur Gaza Ilustrasi pasien di rumah sakit di Jalur Gaza. (Reuters/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi sejumlah rumah sakit di Jalur GazaPalestina saat ini semakin memprihatinkan. Di samping harus menampung dan merawat penduduk yang menjadi korban serangan Israel, mereka juga dihadapkan kepada krisis listrik.

Direktur Kerja sama Internasional Kemenkes Palestina, Ashraf Abu Mahdi, menyatakan ada lima rumah sakit di Gaza yang terancam tidak dapat lagi beroperasi.

"Kelima rumah sakit itu tidak mendapat suplai bahan bakar untuk mengoperasikan generator diesel sebagai sumber energi pengganti listrik yang padam," kata Ashraf.


Salah satu penduduk Gaza, Maryam al Gawga mengaku khawatir dengan keadaan itu. Putri Maryam kini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Anak al Rantisi untuk menjalani cuci darah.
"Anak saya harus menjalani dialisis. Paling tidak empat jam sehari mesin pencuci darah bekerja. Mesin itu memberi harapan hidup bagi putri saya. Adanya krisis bahan bakar ini membuat hidupnya dan 43 pasien dengan kasus yang sama dalam bahaya," kata Maryam, seperti dilansir Middle East Eye, Senin (4/2).

Serangan Israel terhadap sipil Palestina terus menuai korban luka dan jiwa. Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan, pasien luka-luka semakin bertambah dalam sepuluh bulan terakhir. Peningkatan jumlah pasien ini membuat rumah sakit di Palestina butuh suplai listrik, obat-obatan, dan keperluan medis lebih dari biasanya.

Krisis bahan bakar benar-benar menjadi masalah genting di Gaza, mengingat setiap pekan pasien luka-luka dari demo Gerakan Raya Kembali (The Great March of Return) terus bertambah. Pada pekan ke-45, yakni Januari lalu, International Middle East Media Center melaporkan 98 warga sipil luka-luka di hari itu, terdiri dari 15 anak-anak, 4 wanita, 2 paramedis, dan seorang jurnalis. Mereka pun harus segara dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat penangan medis.

Menyadari pasokan listrik kritis, Kemenkes Gaza pun terus mencari penyumbang bahan bakar. Selain bahan bakar, Ashraf mengatakan, ambulans sebagai salah satu fasilitas kesehatan di Gaza juga banyak yang tidak layak.
"Sebagian besar mengalami kerusakan parsial, sementara dua di antaranya hancur total. Semua ambulans itu menggunakan armada mobil tua, beberapa berusia 25 tahun," katanya.

Sejumlah pasien juga tidak bisa dirawat karena rumah sakit telah kehabisan ruang dan kasur untuk perawatan. Asraf menyebut data, sejak dimulainya protes warga dalam The Great March of Return pada Maret hingga akhir 2018, setengah dari 26 ribu korban cedera tidak bisa mendapat penanganan medis. (ayp/ayp)