Saudi Klaim Tak Tahu Keberadaan Jasad Khashoggi

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 07:42 WIB
Saudi Klaim Tak Tahu Keberadaan Jasad Khashoggi Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir mengklaim bahwa Arab Saudi tak tahu keberadaan jasad Jamal Khashoggi, jurnalis pengkritik kerajaan yang tewas dibunuh di konsulat perwakilan Riyadh di Istanbul. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi mengklaim tidak mengetahui keberadaan jasad Jamal Khashoggi, jurnalis pengkritik kerajaan yang tewas dibunuh di konsulat perwakilan Riyadh di Istanbul, Turki, 2 Oktober lalu.

"Kami tidak tahu," ujar Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, dalam program Face the Nation di stasiun televisi CBS, Minggu (10/2).

Dengan keterangan ini, keberadaan jasad Khashoggi yang dilaporkan dimutilasi di gedung konsulat Saudi itu semakin menjadi misteri.
Aparat Turki menuding pemerintahan Saudi sebagai dalang di balik pembunuhan koresponden The Washington Post yang kerap mengkritik kebijakan Putra Mahkota, Pangeran Mohammad bin Salman (MbS), tersebut.


Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) bahkan sempat dilaporkan sudah mengambil simpulan bahwa MbS memerintahkan langsung pembunuhan Khashoggi.

Meski sempat menyebut Khashoggi sudah keluar dengan selamat setelah memasuki gedung konsulat, Saudi akhirnya mengakui bahwa jurnalis itu tewas dibunuh, tapi menegaskan bahwa kerajaan Saudi sama sekali tak mengetahui plot pembunuhan tersebut.
Jubeir pun kembali menegaskan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh sejumlah pejabat Saudi "yang bertindak di luar kewenangan mereka." Ia juga menekankan bahwa 11 orang sudah didakwa atas tudingan pembunuhan Khashoggi.

Ketika ditanya apakah belasan tahanan itu mengetahui keberadaan jasad Khashoggi, Jubeir hanya menjawab, "Kami masih menyelidiki."

"Kami punya beberapa kemungkinan dan kami bertanya kepada mereka apa yang mereka lakukan terhadap jasadnya, dan saya pikir penyelidikannya masih berlangsung, dan saya kira kami akan menemukan kebenaran," katanya, sebagaimana dikutip AFP.

[Gambas:Video CNN]

Pembawa acara kemudian menanyakan laporan The New York Times soal intersepsi CIA atas komunikasi MbS yang pada 2017 mengatakan kepada ajudannya, ia akan mengejar Khashoggi dengan cara apa pun, bahkan "dengan peluru" jika jurnalis itu tak kembali ke Saudi.

Wawancara ini dilakukan pada Jumat lalu, di hari yang sama ketika Presiden Donald Trump mengabaikan tenggat waktu bagi Kongres untuk melaporkan dalang di balik pembunuhan Khashoggi.

Selama ini, Trump memang dikritik karena dianggap kurang keras terhadap Saudi terkait kasus Khashoggi. Sejumlah pihak menuding Trump memiliki bisnis pribadi dengan Saudi. (has/has)