Guaido Janjikan Venezuela dan Israel Kembali Berteman

CNN Indonesia | Selasa, 12/02/2019 17:54 WIB
Guaido Janjikan Venezuela dan Israel Kembali Berteman Pemimpin oposisi di Majelis Nasional Venezuela, Juan Guaido. (Federico PARRA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin kelompok oposisi Venezuela, Juan Guaido, menyatakan sedang berupaya merajut kembali hubungan diplomatik dengan Israel, di tengah situasi krisis politik. Persahabatan kedua negara itu sudah satu dasawarsa terputus karena persoalan Palestina.

"Saya menyampaikan tentang proses perbaikan hubungan dengan Israel tengah berlangsung," kata Guaido, seperti dilansir Reuters, Selasa (12/2).

Guaido mengklaim pengumuman pembukaan kembali kedutaan besar mereka di Israel tinggal menunggu waktu yang tepat. Sebab, di Venezuela juga terdapat warga etnis Yahudi yang kerap bepergian ke Israel.



"Komunitas Yahudi ini sangat aktif dan sejahtera, yang pernah memberi bantuan besar kepada masyarakat," ujar Guaido.

Venezuela memutuskan hubungan dengan Israel pada masa kepemimpinan mendiang Hugo Chavez. Hal itu terkait dengan perang antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza pada 2008 sampai 2009.

Chavez waktu itu menyatakan mendukung perjuangan warga Palestina, dan menganggap Israel sebagai musuh. Kebijakan itu dilanjutkan oleh penerusnya, Nicolas Maduro.

Krisis politik berkepanjangan di Venezuela terjadi karena Maduro tak kunjung mewujudkan janjinya menggelar pemilihan umum yang demokratis. Alhasil, Guaido yang menjadi pemimpin legislatif mendadak secara aklamasi menyatakan sebagai presiden interim.


Guaido bahkan merayu angkatan bersenjata yang loyal terhadap Maduro untuk mengalihkan dukungan, dengan klaim bakal diberi pengampunan.

Kondisi Venezuela saat ini amburadul karena krisis politik dan ekonomi. Inflasi tidak terkendali membuat nilai mata uang mereka, Venezuela Bolivar, jatuh.

Kondisi itu membuat harga barang melonjak sangat tinggi. Alhasil, penduduk Venezuela banyak yang memilih mengungsi ke negara tetangganya seperti Kolombia.

Guaido mendulang dukungan dari 50 negara, termasuk Amerika Serikat. Sementara itu, Maduro didukung China, Rusia, dan sejumlah negara Afrika.

Uni Eropa dan sejumlah negara lain lantas membentuk satu grup untuk membahas pemecahan masalah di Venezuela yang pada dasarnya dipicu krisis ekonomi akibat hiperinflasi di masa pemerintahan Maduro.


Pemimpin Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus, menyatakan dia siap menjadi penengah dalam krisis politik Venezuela. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, juga menyatakan hal yang sama.

[Gambas:Video CNN] (ayp/ayp)