Hampir 80 Tahanan Kabur dari Penjara Haiti

CNN Indonesia | Rabu, 13/02/2019 11:38 WIB
Hampir 80 Tahanan Kabur dari Penjara Haiti Ilustrasi. (Istockphoto/menonsstocks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 78 tahanan di salah satu penjara di Haiti melarikan diri pada Selasa (12/2), ketika protes menentang Presiden Jovenel berlangsung di sekitar fasilitas bui.

Saksi mata mengatakan protes anti-Moise itu terjadi di depan kantor polisi yang berdekatan dengan lembaga pemasyarakatan di Aquin tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah kekhawatiran akan kondisi penjara di Haiti yang selama ini dianggap paling tidak manusiawi di dunia oleh sejumlah kelompok pegiat hak asasi manusia.
Sejumlah faktor yang membuat kondisi penjara di Haiti tak manusiawi di antaranya jumlah tahanan melebihi kapasitas, kebersihan buruk, keterbatasan makanan, dan kekurangan fasilitas kesehatan. Sementara itu, sistem peradilan juga sangat lamban sehingga krisis tak terhindarkan.


Oktober lalu, sebuah penyelidikan mengungkapkan bahwa tiga perempat dari 11.839 orang yang dipenjara di Haiti masih menunggu keputusan pengadilan dan waktu penundaan kadang bisa lebih dari satu dekade.

Ketika para narapidana sengsara di tahanan, warga di luar penjara juga sedang menyuarakan protes mereka di ruas-ruas jalan di ibu kota, Port-au-Prince, selama sepekan terakhir untuk menuntut pengunduran diri Moise.
Demonstran menuntut Moise mengundurkan diri terkait skandal dana Petrocaribe, di mana Venezuela memasok minyak dengan harga murah kepada Haiti dan negara-negara Karibia dan Amerika Tengah lainnya dengan syarat kredit mudah dengan jangka waktu bertahun-tahun.

Penyelidikan menemukan sekitar US$2 miliar atau setara dengan Rp28,1 triliun dana program itu disalahgunakan. Para demonstran menuntut presiden menanggapi laporan penyalahgunaan wewenang serta dugaan penggelapan dana pembangunan di negara Karibia yang miskin itu.

Sebuah laporan pada Januari lalu mengenai penyalahgunaan dana juga menyebutkan sebuah perusahaan yang pada saat itu dipimpin oleh Moise menjadi penerima dana proyek pembangunan jalan yang tidak pernah memiliki kontrak kerja sama.
Selama kampanye, Moise menjanjikan "ketersediaan makanan di setiap piring dan uang di setiap saku," tapi sebagian besar warga Haiti masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka terlebih dengan inflasi yang mengalami peningkatan hingga 15 persen sejak ia menjabat.

Kelompok mediasi yang terdiri dari seorang pejabat senior dari PBB, Brasil, dan koalisi negara-negara Barat telah menyerukan politisi Haiti untuk berdialog membahas krisis, memikirkan korban dan kerusakan yang timbul akibat protes.

Sementara pemerintah tidak memberikan tanggapan terhadap tuntutan para demonstran, kelompok oposisi juga tak mampu menawarkan solusi konkret terhadap krisis, selain meminta presiden untuk mundur. (syf/has)