AS Klaim Rezim Maduro Tinggal Menghitung Hari

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 18:32 WIB
AS Klaim Rezim Maduro Tinggal Menghitung Hari Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. (REUTERS/Alex Wroblewski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo merasa yakin kepemimpinan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, hanya tinggal menghitung hari.

"Prediksi itu sulit. Menentukan hari yang tepat itu sulit. Tapi saya yakin rakyat Venezuela akan memastikan bahwa (kepemimpinan) Maduro bisa dihitung hari," ucap Pompeo saat diwawancarai CNN pada Minggu (24/2) pekan lalu.

Pernyataan itu diutarakan Pompeo di saat krisis politik Venezuela belum juga menemukan titik terang. Bentrokan bahkan sempat mewarnai perbatasan dengan Brasil, di mana tentara Venezuela menembak mati dua warga di antara massa yang mencoba mencegah penutupan perbatasan.


Massa Desa Kumarakapay berupaya menghadang personel militer yang berusaha menutup perbatasan, demi memblokade bantuan kemanusiaan masuk ke Venezuela.
Pompeo menyalahkan pasukan bersenjata lolyalis Maduro yang dikenal "Collectivos" atas kekerasan yang terjadi di perbatasan tersebut.

"Kami berharap militer Venezuela akan segera mengambil peran sebagai pelindung warga dari tragedi-tragedi ini. Jika itu terjadi, saya pikir hal-hal baik akan terjadi," katanya seperti dikutip AFP.

Di Kolombia Pence berencana bertemu dengan Presiden Majelis Nasional Venezuela, Juan Guaido, yang secara aklamasi menyatakan sebagai pemimpin interim negara Amerika Latin itu.

[Gambas:Video CNN]

Pence akan menghadiri pertemuan dengan Guaido serta Lima Group, organisasi multinasional yang terdiri dari 13 negara Amerika Latin dan Kanada, untuk mendiskusikan penyelesaian krisis politik Venezuela dan strategi menyingkirkan Maduro.

Sejak awal, AS memang telah mengakui Guaido sebagai presiden sah Venezuela, langkah yang tak lama diikuti oleh puluhan negara lainnya termasuk Uni Eropa.
"Satu-satunya misi tunggal kami adalah memastikan rakyat Venezuela mendapatkan demokrasi yang layak dan membuat orang-orang Kuba dan Rusia yang telah menjatuhkan negara yang dulunya kaya ini selama bertahun-tahun supaya tidak lagi berkuasa," papar Pompeo. (rds/ayp)