Maskapai Vietnam Teken Kontrak Rp294,6 T dengan Perusahaan AS

CNN Indonesia | Rabu, 27/02/2019 20:30 WIB
Maskapai Vietnam Teken Kontrak Rp294,6 T dengan Perusahaan AS Ilustrasi. (Reuters/Kham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maskapai Vietnam menandatangani kesepakatan penerbangan dengan perusahaan Amerika Serikat pada Rabu (27/2), ketika Presiden Donald Trump bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi di Hanoi menjelang pertemuannya dengan Kim Jong-un.

Reuters melaporkan bahwa tiga maskapai besar Vietnam menandatangani beberapa kesepakatan untuk pembelian pesawat, mesin, dan kontrak pemeliharaan.

Maskapai berbiaya rendah Vietjet menandatangani perjanjian untuk 100 pesawat Boeing 737 senilai $12,7 miliar, sekaligus untuk pelatihan dan kontrak dukungan.


Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan bahwa maskapai berbiaya rendah itu juga akan membeli 215 mesin yang dibuat oleh CFM, perusahaan patungan antara GE Aviation AS dan Safran Aircraft Engine Prancis.
Maskapai penerbangan baru asal Vietnam, Bamboo Airways, juga akan membeli 10.780 Dreamliners dari Boeing. Mereka juga mengaku akan memulai penerbangan ke AS akhir tahun ini atau awal 2020.

Saat ini, tidak ada penerbangan langsung antara kedua negara, meskipun aturan penerbangan federal AS telah memberi peringkat kategori 1 bagi Vietnam, yang memperbolehkan perjalanan non-stop.

Sementara itu, Vietnam Airlines juga menandatangani kontrak pemeliharaan senilai $100 juta dengan Sabre Corporation.

[Gambas:Video CNN]

Gedung Putih mengapresiasi kesepakatan-kesepakatan itu karena di bawah arahan Trump, mantan musuhnya itu didesak untuk membeli lebih banyak peralatan militer.

"Kesepakatan ini akan mendukung lebih 83.000 pekerjaan di AS dan memberikan peningkatan keamanan dan keandalan bagi para pelancong internasional Vietnam," kata seorang pejabat senior Gedung Putih setelah kesepakatan ditandatangani.

Sektor penerbangan Vietnam mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, dengan jumlah penumpang yang melonjak dari 25 juta pada 2012 menjadi 62 juta tahun lalu.

Para analis memperkirakan pertumbuhan pesat ini akan mulai berkurang karena peningkatan kapasitas bandara dan persaingan ketat antar maskapai di seluruh kawasan, khususnya maskapai berbiaya rendah seperti AirAsia dan TigerAir. (ham/has)