FOTO: Jejak Para Pelaju Mengarungi Kemacetan Filipina

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 15:34 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Situasi lalu lintas di kota-Kota besar Filipina, tak jauh berbeda dari Jakarta. Macet yang tak mengenal waktu menjadi santapan sehari-hari.

Pemandangan kepadatan lalu lintas pada pagi hari di jalan protokol EDSA di Kota Makati, Filipina. Suasanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Rutinitas para pelaju di wilayah pinggiran Kota Manila saban hari berjibaku di transportasi umum, seperti kereta, menuju tempat kegiatan mereka di tengah kota. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Moda kereta api di Filipina juga buruk karena jalurnya terbatas dan armadanya sudah uzur. Padahal banyak warga mengandalkannya untuk menuju tempat bekerja. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Sebagian warga di pinggiran Ibu Kota Manila mengeluhkan buruknya manajemen lalu lintas. Mereka merasa waktu mereka habis hanya untuk perjalanan. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Jalan protokol di Manila dan sekitarnya dianggap sudah tidak mampu lagi menampung jumlah kendaraan bermotor yang selalu bertambah. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Menurut hasil survei pemerintah Jepang pada 2012, kerugian akibat kemacetan di Filipina mencapai US$46,1 juta. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Menurut hasil survei Waze pada 2015, tingkat kemacetan lalu lintas di Filipina adalah yang terparah di dunia. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, menyatakan tidak mudah menekan tingkat kemacetan di negaranya. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Duterte baru mau membenahi infrastruktur dengan program senilai ratusan juta dolar. Termasuk membangun jalan, bandara, rel kereta, dan kereta bawah tanah. (REUTERS/Eloisa Lopez).
Di sisi lain, Duterte menyetujui aturan yang meminta perusahaan membolehkan karyawannya bekerja dari rumah. (REUTERS/Eloisa Lopez).