Tersinggung Tuduhan Maduro, AS Tarik Diplomat di Venezuela

CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 19:51 WIB
Tersinggung Tuduhan Maduro, AS Tarik Diplomat di Venezuela Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo. (REUTERS/Aaron P. Bernstein)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Amerika Serikat memutuskan menarik seluruh staf diplomatik mereka dari Venezuela. Hal itu dilakukan karena AS tersinggung dengan tudingan Presiden Nicolas Maduro yang menyebut mereka adalah dalang pemadaman listrik berhari-hari yang memicu krisis air.

"Keputusan ini memperlihatkan situasi di Venezuela yang semakin memprihatinkan dan bisa disimpulkan kehadiran staf diplomat AS membatasi kebijakan AS," cuit Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, seperti dilansir The Guardian, Selasa (12/3).
Dalam pidato selama 35 menit pada Senin (11/3) malam waktu setempat, Maduro menuduh AS adalah dalang di balik pemadaman listrik di seluruh Venezuela. Menurut dia, AS bersekongkol dengan kelompok oposisi di Venezuela untuk membuat negara itu terus menerus dalam keadaan konflik dan tidak berdaya, sehingga nantinya bisa ikut campur dengan mengerahkan kekuatan militer.

"Pemerintah imperialis Amerika Serikat yang memerintahkan serangan ini," kata Maduro.


Maduro mencoba meyakinkan rakyat 'serangan' AS terhadap jaringan listrik mereka akan segera berakhir. Namun, pemimpin oposisi, Juan Guaido, menyatakan situasi itu disebabkan karena pemerintah salah urus, tidak cakap, dan korupsi yang merajalela.

[Gambas:Video CNN]

"Kita ada di tengah bencana dan ini bukan disebabkan karena badai atau tsunami. Ini adalah hasil dari rezim yang korupsi serta tidak efisien dan payah yang tidak peduli terhadap kehidupan rakyat Venezuela," kata Guaido.

Aktivis mahasiswa di Venezuela, Anna Ferrera, tidak sepakat dengan argumen Maduro. Menurut dia, Di samping tuduhan, Maduro sama sekali tidak bisa menunjukkan bukti AS memang melakukan sabotase.
Krisis ekonomi akibat inflasi tak terkendali sejak Maduro mengambil kendali pemerintahan sejak Hugo Chavez meninggal enam tahun silam membuat Venezuela masuk ke dalam pusaran masalah. Hal itu memicu krisis kemanusiaan hingga politik sampai saat ini. (ayp/ayp)