Pelajar Terpapar Uap Beracun, Malaysia Tutup Puluhan Sekolah

CNN Indonesia | Kamis, 14/03/2019 01:38 WIB
Pelajar Terpapar Uap Beracun, Malaysia Tutup Puluhan Sekolah Ilustrasi pasien rumah sakit. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan sekolah di Pasir Gudang, Negara Bagian Johor, Malaysia ditutup sementara karena sejumlah pelajarnya keracunan akibat menghirup uap metana. Diduga hal itu akibat pembuangan limbah yang mengandung metana secara serampangan di Sungai Kim-kim yang tidak segera ditangani dengan benar.

Seperti dilansir Channel NewsAsia, Selasa (13/3), perintah penutupan puluhan sekolah diterbitkan oleh Menteri Energi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Lingkungan dan Perubahan Iklim Yeo Bee Yin. Menurut dia kondisi pencemaran uap metana dan keracunan semakin membahayakan.
"Saya memerintahkan seluruh sekolah dalam radius tiga kilometer supaya segera ditutup. Guru juga tidak perlu mengajar karena kondisinya sangat berbahaya," kata Yin dalam keterangan yang diunggah melalui laman Facebook.

Menurut Yin seorang pelaku pembuang limbah kimia itu saat ini sudah ditangkap. Kemungkinan besar dia bakal dihadapkan ke meja hijau pada Kamis (14/3) besok.


Yin menyatakan dia sudah meminta Jaksa Agung Tommy Thomas untuk menjerat pelaku dengan dakwaan berlapis. Mereka kemungkinan bakal mendakwanya menggunakan undang-undang perlindungan lingkungan.
Selama sepekan ini sudah 82 orang dirawat di rumah sakit karena keracunan menghirup uap metana. Hal itu terjadi setelah seorang pelaku membuang limbah kimia di sungai.

Limbah yang terpapar panas dari sinar matahari lantas menguap dan terbawa angin, kemudian dihirup banyak orang.

Menurut Kepala Departemen Penyelamat dan Pemadam Kebakaran Johor, Mohammad Hamdan Wahid, sebenarnya pemerintah setempat sudah mengetahui soal pembuangan limbah kimia di sungai setempat. Namun, mereka memutuskan tidak membersihkannya karena menganggap limbah itu sudah tidak berbahaya, yang diduga hanya dalih dengan alasan tidak ada anggaran untuk melakukan hal itu.

Karena hal itu, lanjut Wahid, limbah itu menguap dan mengakibatkan sejumlah orang terpapar hingga keracunan.
"Karena cuaca terik, limbah kimia itu kembali menguap dan melepaskan zat beracun yang tersebar melalui udara dan membuat banyak orang sakit," ujar Wahid. (ayp/ayp)